Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dolar Makin Mahal, Indonesia-Filipina Jajal Perdagangan Barter

Dolar Makin Mahal, Indonesia-Filipina Jajal Perdagangan Barter Kredit Foto: Antara/Rivan Awal Lingga
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah Indonesia mendorong skema imbal dagang atau barter dengan Filipina sebagai salah satu strategi untuk mengurangi kebutuhan penggunaan dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi perdagangan internasional. Langkah ini dinilai dapat membantu menekan dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sekaligus menjaga stabilitas perdagangan kedua negara.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah mulai memperluas kerja sama barter dengan sejumlah negara, termasuk Filipina. Menurut dia, mekanisme tersebut memungkinkan transaksi perdagangan dilakukan melalui pertukaran komoditas tanpa bergantung pada pembayaran tunai menggunakan dolar AS.

“Dengan cara barter, pengeluaran dolar AS tidak terlalu banyak,” ujar Budi usai Rapat Koordinasi Terbatas Perkembangan Harga Komoditas Pangan di Jakarta, Selasa.

Kerja sama tersebut diperkuat melalui penandatanganan dua nota kesepahaman (MoU) imbal dagang tripartit antara pelaku usaha Indonesia dan Filipina yang memiliki potensi nilai transaksi mencapai 350 juta dolar AS atau sekitar Rp6,29 triliun per tahun.

Budi menjelaskan bahwa Indonesia dan Filipina telah menjajaki pertukaran sejumlah komoditas strategis. Salah satunya adalah barter serat abaka asal Filipina dengan produk tekstil Indonesia. Selain itu, kedua negara juga menyepakati pertukaran bijih besi dari Filipina dengan produk baja dari Indonesia.

Menurutnya, skema imbal dagang menjadi solusi untuk menghadapi fluktuasi nilai tukar yang memengaruhi mata uang kedua negara. Melalui mekanisme tersebut, kebutuhan devisa untuk impor dapat ditekan karena transaksi dilakukan melalui pertukaran barang.

“Kami harapkan nanti ada produk yang lain. Itu salah satu cara untuk mengurangi kebutuhan dolar AS karena dengan imbal dagang bisa membantu itu,” kata Budi.

Dalam kesepakatan yang ditandatangani pada Senin (8/6/2026), MoU pertama melibatkan perusahaan Filipina Asian Pyrochem Technologies bersama PT Trade Barter Indonesia dan Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia. Ketiga pihak menyepakati pertukaran serat abaka mentah dengan produk tekstil jadi senilai 50 juta dolar AS per tahun.

Sementara itu, MoU kedua melibatkan Asian Pyrochem Technologies, PT Trade Barter Indonesia, dan PT Krakatau Global Trading. Kesepakatan tersebut mencakup pertukaran produk baja dengan bijih besi asal Filipina untuk memenuhi kebutuhan produksi perusahaan baja nasional dengan nilai mencapai 300 juta dolar AS per tahun.

Baca Juga: Kini Dipanggil Prabowo, Chatib Basri Sebelumnya Sebut Belanja Negara Pengaruhi Pelemahan Rupiah

Budi menilai kedua proyek tersebut mencerminkan komitmen pelaku usaha Indonesia dan Filipina dalam menghadirkan solusi perdagangan yang inovatif dan saling menguntungkan. Ia berharap kerja sama barter itu tidak hanya memperkuat rantai pasok industri di kedua negara, tetapi juga membuka peluang kolaborasi perdagangan yang lebih luas pada masa mendatang.

Selain mendorong skema imbal dagang, pemerintah juga terus mengawasi perkembangan harga barang impor di tengah tekanan nilai tukar rupiah. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga yang dapat membebani masyarakat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: