Kredit Foto: Istimewa
Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (9/6) dinilai berkaitan dengan meredanya spekulasi mengenai reshuffle kabinet, khususnya isu pergantian Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Kepastian bahwa rumor tersebut tidak benar dinilai membantu mengurangi ketidakpastian di pasar keuangan dan memperbaiki sentimen investor.
Ekonom STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, mengatakan pasar merespons positif setelah muncul penegasan bahwa tidak akan ada pergantian Menteri Keuangan. Menurutnya, berkurangnya ketidakpastian politik menjadi salah satu faktor yang mendorong penguatan IHSG dan rupiah.
“Rumor pergantian menteri keuangan sempat memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah. Ketika isu itu dibantah, sebagian investor kembali percaya bahwa tidak akan ada perubahan mendadak pada kebijakan ekonomi,” kata Aditya, Selasa (9/6).
Ia menjelaskan, investor sangat memperhatikan kesinambungan kebijakan ekonomi pemerintah. Posisi Menteri Keuangan dianggap strategis karena berperan dalam menjaga koordinasi kebijakan fiskal dengan Bank Indonesia guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pasar obligasi.
Dengan tidak adanya perubahan mendadak di posisi tersebut, pasar menilai arah kebijakan ekonomi berpeluang tetap berjalan konsisten. Kondisi itu dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
Selain meredanya rumor reshuffle, Aditya menilai penguatan pasar juga didorong oleh aksi beli investor setelah tekanan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. Pada hari sebelumnya, IHSG mengalami penurunan cukup tajam dan rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Ketika sentimen negatif mulai berkurang, sebagian investor memanfaatkan penurunan harga saham untuk melakukan aksi beli atau buy on weakness. Langkah tersebut kemudian membantu mendorong rebound IHSG sekaligus mendukung penguatan rupiah.
Meski demikian, Aditya mengingatkan bahwa pergerakan pasar keuangan tidak dapat dijelaskan hanya oleh meredanya isu pergantian Menteri Keuangan. Menurutnya, terdapat berbagai faktor lain yang turut memengaruhi pasar, seperti arus modal asing, kebijakan suku bunga, kondisi ekonomi global, sentimen terhadap dolar AS, serta ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia.
“Meredanya rumor reshuffle kemungkinan menjadi salah satu katalis positif yang mengurangi kepanikan pasar. Namun, itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan penguatan IHSG dan rupiah pada hari ini,” ujarnya.
Senada dengan itu, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, menilai stabilitas kebijakan menjadi salah satu faktor penting yang menopang kepercayaan investor. Menurutnya, penguatan IHSG tidak lepas dari persepsi pasar terhadap prospek ekonomi nasional dan stabilitas kebijakan fiskal.
“Yang utama, jika aliran modal besar masuk ke Indonesia dan devisa negara banyak, maka nilai rupiah tidak terdepresiasi,” kata Esther.
Ia menjelaskan, investor global umumnya mempertimbangkan sejumlah faktor sebelum menanamkan modal di Indonesia. Faktor tersebut meliputi kepastian hukum, prospek ekonomi yang baik, ketersediaan bahan baku, ekosistem usaha yang mendukung, integrasi rantai pasok global, infrastruktur yang memadai, serta harmonisasi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah.
Baca Juga: Lengkap! Purbaya Beberkan Jurus Pemerintah Dongkrak Ekonomi hingga 2027, Kejar Target 8%
Menurut Esther, stabilitas di tingkat kementerian, termasuk tidak adanya perubahan mendadak pada posisi Menteri Keuangan, memberikan sinyal positif bagi pasar karena mengurangi ketidakpastian kebijakan dalam jangka pendek.
Ia menegaskan, apabila berbagai faktor pendukung tersebut dapat dipenuhi, Indonesia berpeluang menarik lebih banyak aliran modal asing yang pada akhirnya akan memperkuat nilai tukar rupiah dan pasar modal domestik.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: