Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

SCOPI Member Assembly 2026 Perkuat Aksi Kolektif untuk Mewujudkan Ekosistem Kopi Berkelanjutan, Tangguh, dan Sejahtera

SCOPI Member Assembly 2026 Perkuat Aksi Kolektif untuk Mewujudkan Ekosistem Kopi Berkelanjutan, Tangguh, dan Sejahtera Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) bersama anggota dan mitra strategis menyepakati pentingnya penguatan aksi kolektif lintas pemangku kepentingan untuk mempercepat transformasi sektor kopi Indonesia menuju ekosistem yang lebih berkelanjutan, tangguh, dan sejahtera. Kesepakatan tersebut menjadi hasil utama SCOPI Member Assembly 2026 yang mengusung tema “Navigating the New Normal: Mewujudkan Ekosistem Kopi Berkelanjutan, Tangguh, dan Sejahtera” di Jakarta. Diawali dengan sesi Fun Cupping atau bersama-sama mencoba berbagai varian beragam kopi dari berbagai daerah di Indonesia, pertemuan ini menghasilkan kesepahaman bersama bahwa tantangan sektor kopi memerlukan kolaborasi yang lebih erat dan terkoordinasi.

Ketua Dewan Pengurus SCOPI 2024–2027, Irvan Helmi, membuka diskusi melalui sesi Context Setting yang menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi sektor kopi saat ini, mulai dari regulasi global, akses pasar, hingga dampak perubahan iklim yang semakin nyata hingga menjadi sebuah kenormalan baru di berbagai sentra produksi kopi. Ia juga menyoroti capaian SCOPI yang telah menjangkau lebih dari 90.000 petani kopi melalui Master Trainer-nya, sekaligus menegaskan pentingnya memperluas dampak dari tingkat petani menuju transformasi pada tingkat sistem.

Dalam sambutannya, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintari, menekankan pentingnya dukungan kebijakan dan sinergi lintas sektor untuk memperkuat daya saing kopi Indonesia.

“Sentuhan atau intervensi pemerintah masih sangat diharapkan di komoditi kopi kita. Kopi pun bisa masuk sebagai komoditi strategis, karena memang pelaku usahanya, penggiat-penggiatnya ini banyak dari petani-petani rakyat,” ujar Merri.

Arah penguatan kolaborasi tersebut diperkuat melalui keynote speech oleh Puspita Suryaningtyas, Sekretaris Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas. Ia menekankan bahwa penguatan sektor kopi harus mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari produktivitas petani hingga hilirisasi, logistik, inovasi, dan akses pasar global.

“Pemerintah sudah memiliki program-program yang besar, teman-teman asosiasi pun memiliki program-program yang besar. Untuk bisa memperoleh dampak yang lebih besar lagi, harapannya program-program yang ada ini bisa diselaraskan bersama. Koordinasi yang erat, kemudian penguatan data, sehingga nanti dalam implementasinya kita bisa benar-benar memperoleh masukan yang benar untuk melakukan perbaikan ke depan,” tutup Puspita.

Komitmen tersebut sejalan dengan paparan SCOPI Outlook 2026 oleh Direktur Eksekutif SCOPI, Ade Aryani, yang menegaskan peran SCOPI sebagai platform netral dan pre-kompetitif untuk memperkuat kolaborasi antaranggota dan mitra strategis.

“Bagaimana kita bisa memetakan inisiatif dari para anggota dan juga mengakselerasi kolaborasi dari para anggota dan juga mitra strategis SCOPI. Ini kita coba sama-sama lakukan sebagai komunitas kopi di Indonesia, kita majukan, kita perbaiki bersama-sama,” Ade menjelaskan.

Pembahasan diperdalam melalui diskusi panel yang menghadirkan Head of Purchasing PT Mayora Indah Tbk sekaligus Dewan Pengawas SCOPI, Richard Atmadja, Cocoa and Coffee Programme Manager Rikolto Indonesia, Nuzul Qudri, serta Founder dan CEO Adena Coffee sekaligus Dewan Pengurus SCOPI, Abyatar, dengan moderator Direktur BERAGAM Indonesia sekaligus Dewan Pengurus SCOPI, Nur Jamila. Diskusi menghasilkan pemahaman bersama bahwa keberlanjutan kopi Indonesia memerlukan penguatan investasi, regenerasi petani, adaptasi perubahan iklim, serta kolaborasi yang lebih erat dari hulu hingga hilir. Melalui sesi “Innovation Session: Uncovering Root Causes for Collective Action”, peserta mengidentifikasi empat area prioritas untuk aksi bersama, yaitu kepatuhan regulasi dan akses pasar, pertanian regeneratif dan perubahan iklim, kesejahteraan petani dan living income gap, serta tata kelola sektor kopi.

Selain menghasilkan kesepakatan strategis, SCOPI Member Assembly 2026 juga menghadirkan Business Matchmaking yang mempertemukan produsen kopi berkelanjutan dengan calon pembeli dari sektor industri, ritel, dan Horeka (hotel, restoran, dan kafe). Kegiatan ini dirancang sebagai upaya memberikan manfaat ekonomi yang lebih signifikan bagi anggota dan jejaring SCOPI, terutama melalui fasilitasi pertemuan bisnis kopi berkelanjutan.

Kegiatan SCOPI Member Assembly 2026 terselenggara atas dukungan Rikolto Indonesia, ITFC, Rainforest Alliance, Varion Coffee, Anomali Coffee, Indonesia Coffee Academy,  BERAGAM, dan Toko Kopi Tuku. Kegiatan ini juga didukung oleh ACT! Project, yaitu konsorsium yang terdiri dari Rainforest Alliance, SCOPI, dan Cocoa Sustainability Partnership (CSP), yang didukung Uni Eropa melalui program SWITCH-Asia. Dukungan para mitra ini mencerminkan semangat kolaborasi yang menjadi pondasi penting dalam mewujudkan masa depan kopi Indonesia yang lebih berkelanjutan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Redaksi

Tag Terkait: