Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kejar Target 5.000 Desa Ekspor, Kemendes Gandeng Barantin

Kejar Target 5.000 Desa Ekspor, Kemendes Gandeng Barantin Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah terus mendorong potensi ekonomi desa menembus pasar internasional. Untuk mewujudkan target tersebut, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menggandeng Badan Karantina Indonesia (Barantin) dalam pengembangan ribuan desa ekspor di berbagai daerah.

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, mengungkapkan pemerintah menargetkan pembentukan 5.000 desa ekspor. Saat ini, telah terdapat 338 desa ekspor dengan nilai transaksi mencapai Rp1 triliun yang menghasilkan berbagai komoditas, mulai dari hewan, ikan, hingga produk pertanian.

"Ada 59 negara yang siap menerima komoditas dari desa-desa ini seperti kopi, minyak kemiri, ikan hias, bibit tanaman, bawang merah, gula aren, pisang, sereh, dan lainnya. Ini akan diangkat ke permukaan agar ekonomi desa kuat dan tangguh," ujar Yandri dalam keterangan pers Barantin, Kamis (18/6/2026).

Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara Kemendes PDT dan Barantin. Melalui kerja sama ini, pemerintah berharap produk unggulan desa dapat memenuhi standar karantina dan persyaratan negara tujuan ekspor.

Yandri menilai peningkatan literasi pelaku usaha desa mengenai prosedur karantina menjadi faktor penting untuk memperluas akses pasar internasional.

"Parameter untuk diterima negara tujuan yang utama adalah literasi pelaku bisnis di tingkat desa mengenai karantina perlu ditingkatkan. Dengan adanya literasi ini setidaknya masyarakat desa mengerti dan tidak akan tertipu," katanya.

Sebagai tindak lanjut, pemerintah akan memberikan pendampingan dan asistensi karantina secara langsung kepada desa-desa yang memiliki potensi ekspor.

"Kita bukan superman, tapi kita adalah superteam. Harus berkolaborasi, tidak ada instansi yang bisa bekerja sendiri," ujar Yandri.

Sementara itu, Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding, mengatakan desa memiliki peran strategis dalam menjaga sistem biosekuriti nasional karena menjadi sumber utama produksi komoditas pertanian, perikanan, dan peternakan.

Menurutnya, jaringan lebih dari 75 ribu kepala desa dan sekitar 34 ribu tenaga pendamping desa menjadi modal besar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan hewan, ikan, dan tumbuhan.

"Dengan lebih dari 75 ribu kepala desa dan sekitar 34 ribu tenaga pendamping desa yang tersebar di seluruh Indonesia, kita memiliki kekuatan besar untuk membangun kesadaran bersama bahwa menjaga kesehatan hewan, ikan, dan tumbuhan adalah bagian dari menjaga ketahanan pangan dan masa depan ekonomi desa," tutur Karding.

Ke depan, Barantin akan menyusun perjanjian kerja sama yang lebih operasional, membentuk tim teknis bersama, serta menetapkan proyek percontohan (pilot project) di sejumlah desa prioritas, termasuk wilayah perbatasan, daerah tertinggal, sentra pangan, dan kawasan yang memiliki potensi ekspor.

Karding menambahkan, saat ini telah terbentuk lebih dari 39 ribu Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berbadan hukum dan puluhan ribu koperasi desa yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

"Ini menunjukkan bahwa desa memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dan potensi yang besar itu perlu kita bantu naik kelas," pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri