- Home
- /
- EkBis
- /
- Agribisnis
Prabowo Turun Tangan Soal Harga Sawit, Mentan Ungkap Masih Ada Perusahaan yang Belum Patuh
Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
Kondisi harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang sempat mengalami penurunan kini menjadi perhatian langsung Presiden Prabowo Subianto. Isu tersebut menjadi salah satu agenda yang dibahas saat Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dipanggil ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Pemanggilan tersebut menunjukkan pemerintah memberi perhatian serius terhadap perkembangan harga sawit yang berdampak langsung pada jutaan petani di berbagai daerah. Terlebih, penurunan harga TBS sebelumnya sempat memicu keluhan dari kalangan petani.
Setibanya di Istana, Amran mengungkapkan bahwa pembahasan kemungkinan besar akan menyoroti kondisi harga sawit yang beberapa waktu lalu mengalami penurunan. Meski demikian, ia memastikan mayoritas harga TBS kini telah kembali ke level normal.
"Mungkin pertama, perkiraan saya ya, diskusi masalah TBS yang beberapa hari yang lalu turun. Tapi, alhamdulillah sudah kembali normal," kata Amran.
Menurut Amran, sebagian besar perusahaan telah kembali menaikkan harga pembelian TBS di tingkat petani. Langkah tersebut dilakukan setelah pemerintah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam rantai industri sawit.
Namun, pemerintah masih menemukan sejumlah perusahaan yang belum sepenuhnya mengikuti kesepakatan tersebut. Amran menyebut jumlahnya relatif kecil, tetapi tetap menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi harga di tingkat petani.
"Tapi, masih ada sedikit, mungkin sekitar 5 persen yang belum pulih sampai 10 persen," ujarnya.
Selain membahas harga sawit, pemerintah juga akan meninjau kondisi pangan nasional secara menyeluruh. Agenda hilirisasi sektor pertanian yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Prabowo juga diperkirakan masuk dalam pembahasan.
Amran menilai stabilitas harga komoditas strategis sangat penting untuk menjaga kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Karena itu, pemerintah terus memantau perkembangan harga berbagai komoditas utama.
"Kemudian pangan, keseimbangan pangan kita dan hilirisasinya," ucap Amran.
Sebelumnya, Kementerian Pertanian telah menyatakan akan mengambil langkah tegas terhadap perusahaan yang belum mengembalikan harga pembelian TBS sesuai kesepakatan. Pemerintah menilai tidak ada alasan kuat bagi harga sawit untuk mengalami penurunan.
Amran bahkan menyebut penurunan harga TBS yang terjadi beberapa waktu lalu sebagai kondisi yang tidak lazim. Pasalnya, sejumlah indikator pasar justru menunjukkan tren yang seharusnya mendorong kenaikan harga.
Harga minyak sawit mentah (crude palm oil atau CPO) global tercatat menguat dalam beberapa waktu terakhir. Selain itu, nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS juga seharusnya memberikan keuntungan tambahan bagi sektor ekspor sawit.
Baca Juga: Amran Klaim Harga TBS Sawit Mulai Pulih, 90% Pabrik Sudah Patuhi Harga Acuan
Karena itu, pemerintah mempertanyakan alasan di balik turunnya harga TBS di tingkat petani. Menurut Amran, berbagai asosiasi dan pelaku usaha yang hadir dalam rapat sebelumnya juga sepakat untuk mengembalikan harga ke posisi semula.
"Ini ada anomali, di saat ini harga harusnya naik bukan turun. Kenapa turun? Kami tanya, tidak ada yang bisa jawab," kata Amran dalam konferensi pers sebelumnya.
Pemerintah berharap pemulihan harga sawit dapat berlangsung merata di seluruh daerah penghasil sawit. Dengan begitu, pendapatan petani dapat kembali terjaga dan tidak terganggu oleh gejolak harga yang dianggap tidak sesuai dengan kondisi pasar global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama