Inklusi Keuangan Perbankan Baru 70 Persen, Fintech Jadi Pendorong Inklusi Keuangan
Kredit Foto: Istimewa
Akses terhadap layanan keuangan formal masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Di tengah meningkatnya kebutuhan pendanaan, masih banyak kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem keuangan formal sehingga menghadapi keterbatasan dalam memperoleh akses kredit.
Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk memperluas inklusi keuangan sebagai upaya mendukung aktivitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Merujuk pada White Paper Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama Mandala Consulting bertajuk “Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar”, data World Bank menunjukkan sekitar 48 persen penduduk dewasa Indonesia masih berada dalam kategori underbanked.
Sementara itu, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tingkat inklusi keuangan perbankan baru mencapai sekitar 70 persen pada 2025. Artinya, masih terdapat sekitar 30 persen masyarakat dewasa Indonesia yang belum terlayani secara optimal oleh layanan keuangan formal atau financially excluded.
Direktur Utama PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash), Nucky Poedjiardjo, mengatakan perluasan akses keuangan yang inklusif menjadi salah satu fokus utama perusahaan. Menurutnya, layanan keuangan digital, termasuk pinjaman daring (pindar), dapat menjadi solusi untuk menjembatani kesenjangan akses kredit sekaligus mendukung percepatan inklusi keuangan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Di tengah masih besarnya kebutuhan akses kredit, perluasan akses pendanaan harus berjalan beriringan dengan penerapan tata kelola perusahaan yang baik. Oleh karena itu, Easycash berkomitmen untuk terus memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik, manajemen risiko, dan perlindungan konsumen sebagai fondasi dalam menghadirkan akses pendanaan yang luas bagi masyarakat,” kata Nucky dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Komitmen tersebut tercermin dari penyaluran pendanaan yang terus meningkat. Sejak didirikan pada 2017, Easycash yang merupakan platform pindar berizin dan diawasi OJK telah menyalurkan pendanaan kepada lebih dari 10 juta penerima dana dengan total nilai akumulasi pinjaman mencapai Rp96,67 triliun.
Penyaluran pendanaan tersebut diharapkan dapat mendukung produktivitas masyarakat, terutama bagi kelompok unbanked dan underbanked yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pembiayaan formal.
Salah satu penerima manfaat pendanaan Easycash, Ifa Maria Ulfa, petani asal Jember, memanfaatkan akses pinjaman untuk memenuhi kebutuhan modal usaha tani, khususnya pembelian pupuk untuk tanaman cabai dan padi saat menghadapi keterbatasan modal.
Menurut Ifa, akses pendanaan yang dapat diperoleh dengan cepat membantunya mendapatkan pupuk pada waktu yang tepat sehingga kegiatan budidaya tetap berjalan.
“Dana yang saya dapatkan sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan pembelian pupuk saat modal sedang terbatas. Proses pencairannya cepat sehingga saya bisa tetap menjalankan usaha tani tanpa harus menunda kebutuhan produksi,” ujarnya.
Akses pembiayaan tersebut juga dinilai membantu menjaga keberlangsungan usaha tani yang menjadi sumber penghidupan keluarga sekaligus mengurangi ketergantungan pada pinjaman informal ketika menghadapi kebutuhan mendesak.
Sejalan dengan upaya memperluas akses pendanaan, Easycash juga memperkuat penerapan tata kelola perusahaan melalui penguatan fungsi pengawasan, manajemen risiko dan sistem pengendalian internal, peningkatan fungsi kepatuhan, audit internal dan eksternal, serta transparansi pengelolaan perusahaan sesuai implementasi POJK Nomor 40 Tahun 2024.
Baca Juga: BI Kasih Keringanan Pembayaran Kartu Kredit hingga Akhir Desember 2026
Nucky mengatakan tata kelola yang kuat menjadi faktor penting untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi sekaligus membangun perusahaan yang sehat dan dapat diandalkan dalam memperluas akses kredit masyarakat.
“Kami meyakini bahwa tata kelola yang kuat akan memperkuat kepercayaan para pemangku kepentingan, sekaligus menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan perusahaan yang berkelanjutan,” kata Nucky.
Ke depan, Easycash akan terus berfokus pada perluasan akses pendanaan bagi masyarakat, khususnya segmen unbanked dan underbanked. Perusahaan juga berkomitmen mendorong peningkatan literasi keuangan melalui berbagai program edukasi agar masyarakat semakin bijak dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan layanan keuangan digital.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: