Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rajin Pungut Sampah di Stadion, Kenapa Tak Mau Cuci Piring di Rumah? Kritik untuk Pria Jepang Viral

Rajin Pungut Sampah di Stadion, Kenapa Tak Mau Cuci Piring di Rumah? Kritik untuk Pria Jepang Viral Kredit Foto: X/World Cup
Warta Ekonomi, Jakarta -

Selama bertahun-tahun, penggemar sepak bola Jepang dipuji dunia karena kebiasaan mereka membersihkan stadion setelah pertandingan berakhir. Namun di balik citra disiplin yang mengundang kekaguman internasional itu, muncul kritik tajam dari perempuan Jepang yang menilai ada standar ganda dalam kehidupan sehari-hari.

Perdebatan tersebut kembali ramai setelah sebuah unggahan viral di media sosial menyindir kebiasaan pria Jepang yang rajin memungut sampah di stadion, tetapi dinilai tidak banyak berkontribusi dalam pekerjaan rumah tangga.

Unggahan itu menampilkan ilustrasi seorang pria yang sedang bersantai di sofa sementara seorang perempuan mencuci piring di rumah. Pada gambar lain, pria yang sama terlihat sibuk membersihkan stadion usai pertandingan sepak bola.

Di dalam unggahan tersebut tercantum pesan bernada satir yang berbunyi, "silakan lakukan di rumah", terinspirasi dari poster etika yang biasa ditemukan di Tokyo Metro.

Sindiran itu langsung memicu perdebatan luas di media sosial Jepang dan menarik perhatian banyak pengguna internet. Bagi sebagian perempuan Jepang, pesan tersebut dianggap mewakili realitas yang selama ini mereka rasakan.

Banyak komentar bermunculan yang mempertanyakan mengapa aksi bersih-bersih di ruang publik begitu mudah mendapat pujian, sementara pekerjaan rumah tangga yang dilakukan setiap hari masih didominasi oleh perempuan.

"Semua orang ingin menyelamatkan dunia, tetapi tidak ada yang mau membantu ibu mencuci piring," tulis seorang pengguna media sosial, mengutip kalimat yang populer dari penulis Amerika PJ O'Rourke.

Komentar lain bahkan menyinggung kemungkinan bahwa sebagian pria yang mendapat pujian karena membersihkan stadion justru meninggalkan tanggung jawab rumah tangga kepada pasangan mereka.

"Mungkin ada seorang pria di antara orang-orang yang memungut sampah ini, yang memiliki anak kecil di rumah dan meninggalkan istrinya untuk mengasuh anak-anaknya demi menonton Piala Dunia," tulis seorang netizen.

Kritik tersebut tidak muncul tanpa dasar. Data yang dirilis Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menunjukkan pria Jepang menghabiskan waktu paling sedikit untuk pekerjaan perawatan tanpa bayaran dibandingkan negara-negara maju lainnya.

Sementara itu, studi pemerintah Jepang pada 2021 menemukan bahwa pria hanya menghabiskan rata-rata 51 menit per hari untuk pekerjaan rumah tangga dan urusan keluarga.

Sebaliknya, perempuan Jepang menghabiskan sekitar tiga jam 24 menit setiap hari untuk pekerjaan domestik dan tanggung jawab keluarga.

Perbedaan yang cukup mencolok itu membuat banyak pihak menilai persoalan yang diangkat dalam unggahan viral tersebut bukan sekadar lelucon media sosial, melainkan cerminan ketimpangan yang masih terjadi dalam kehidupan rumah tangga Jepang.

Meski demikian, tidak semua orang setuju dengan kritik tersebut. Sebagian pengguna media sosial berpendapat bahwa kebiasaan membersihkan stadion tetap merupakan contoh positif yang seharusnya didorong, bukan dijadikan sasaran kritik.

Mereka menilai aksi para penggemar Jepang telah membantu membangun citra positif negara tersebut di mata dunia dan menjadi inspirasi bagi banyak suporter dari negara lain.

Beberapa netizen bahkan membandingkannya dengan perilaku penonton olahraga dari negara lain yang kerap meninggalkan tumpukan sampah setelah pertandingan usai.

"Di mana rasa malunya?" tulis seorang pengguna media sosial yang membela kebiasaan para penggemar Jepang.

Komentar lain menyebut kebiasaan itu jauh lebih baik dibandingkan jika masyarakat Jepang justru dikenal karena membuang sampah sembarangan ketika berada di luar negeri.

Baca Juga: Kabar Baik! Pemerintah Buka Lowongan Magang di Jepang, Ini Cara Daftarnya

Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, aksi bersih-bersih yang selama ini identik dengan suporter Jepang memang mulai ditiru oleh negara lain. Salah satu video yang baru-baru ini viral memperlihatkan para penonton sepak bola di Portugal ikut mengumpulkan sampah dari tribun menggunakan kantong plastik besar setelah pertandingan berakhir.

Fenomena tersebut membuat banyak orang tetap memandang Jepang sebagai pelopor budaya membersihkan area publik setelah acara besar. Namun di saat yang sama, perdebatan mengenai pembagian pekerjaan rumah tangga menunjukkan bahwa citra disiplin di ruang publik tidak selalu sejalan dengan realitas yang terjadi di dalam rumah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama

Tag Terkait: