Bukan 50:30:20, Prioritas Menabung di Tengah Krisis Kini Jadi Sorotan
Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Certified Financial Planner Melvin Mumpuni menilai budaya keuangan yang menempatkan tabungan sebagai sisa dari pengeluaran menjadi salah satu penyebab banyak masyarakat Indonesia kesulitan menabung secara rutin. Ia menilai, mindset tersebut perli diubah terlebih dahulu. Persoalan utama bukan terletak pada besaran persentase pembagian keuangan 50:30:20, melainkan pada prioritas dalam mengelola pendapatan.
“Kalau ditanya hasil tabungan itu berapa, menurut teori, 20%. Tapi satu hal yang ingin saya tanya, kenapa orang Indonesia susah menabung rutin?” ujar Melvin menjawab pertanyaan Warta Ekonomi dalam acara OVOFinTalk 2026 di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Menurut dia, kebiasaan tersebut berakar dari pola pendidikan keuangan yang diterima masyarakat sejak usia dini. Anak-anak kerap diajarkan untuk menggunakan uang terlebih dahulu dan menyimpan sisa yang tidak terpakai sebagai tabungan.
“Kapan dalam hidup Anda pertama kali dengar nasihat, sisanya ditabung? Kapan pertama kali dalam hidup Anda mendapat nasihat, sisanya ditabung? Jawabannya ketika masih kecil,” katanya.
Melvin menjelaskan, pola yang terus diulang sejak masa sekolah hingga memasuki dunia kerja membuat banyak orang menjalankan kebiasaan tersebut secara otomatis tanpa mempertanyakan efektivitasnya. Akibatnya, ketika seluruh kebutuhan dan keinginan telah dipenuhi, sering kali tidak ada dana yang tersisa untuk ditabung.
Sebagai contoh, seseorang dengan penghasilan Rp5 juta dapat mulai menyisihkan Rp300 ribu terlebih dahulu untuk tabungan atau investasi. Jika sudah terbiasa, nominal tersebut dapat ditingkatkan secara bertahap menjadi Rp500 ribu atau lebih sesuai kemampuan keuangan.
Baca Juga: Per Triwulan I 2026, OJK Catat Tabungan Pelajar Tembus 59,03 Juta Rekening
Menurutnya, pendekatan tersebut lebih efektif dibandingkan angka presentase tertentu. Hingga kini, tantangan terbesar masyarakat bukan menentukan porsi tabungan, melainkan memastikan tabungan tersedia setiap kali menerima pendapatan.
“Bukan persentasenya yang jadi concern saya, tapi yang jadi concern utama saya adalah prioritasnya. Karena orang Indonesia itu bukan masalah di persentase, masalahnya itu seringnya enggak ada karena ada sisanya,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: