Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tuai Pro-Kontra, Aksi Punguti Sampah di Piala Dunia Suporter Jepang Dikritik di Negeri Sendiri

Tuai Pro-Kontra, Aksi Punguti Sampah di Piala Dunia Suporter Jepang Dikritik di Negeri Sendiri Kredit Foto: X/World Cup
Warta Ekonomi, Jakarta -

Aksi para suporter sepak bola Jepang yang rutin memunguti sampah di tribun stadion usai pertandingan Piala Dunia FIFA kembali mendapat perhatian dunia. Namun di tengah pujian dari publik internasional, kebiasaan tersebut justru memicu perdebatan di Jepang.

Sejumlah akademisi, pengamat, dan warganet mempertanyakan apakah budaya bersih-bersih yang ditunjukkan di stadion benar-benar mencerminkan perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan rumah tangga.

Perdebatan itu menguat setelah sebuah unggahan di media sosial menjadi viral dan ditonton lebih dari 1,9 juta kali. Unggahan tersebut menyindir citra masyarakat Jepang yang dikenal disiplin menjaga kebersihan di ruang publik.

"Pria Jepang termasuk yang menghabiskan waktu paling sedikit untuk melakukan pekerjaan rumah tangga dibanding negara-negara lain. Tolong lakukan aksi bersih-bersih itu di rumah," tulis unggahan tersebut.

Kritik yang muncul tidak hanya menyoroti kebiasaan di stadion, tetapi juga menyentuh isu ketimpangan gender dalam pekerjaan domestik.

Data Kantor Kabinet Jepang yang mengacu pada Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menunjukkan perempuan Jepang menghabiskan waktu sekitar 5,5 kali lebih banyak dibanding laki-laki untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar, seperti memasak, mencuci, mengurus anak, dan berbelanja kebutuhan keluarga.

Sejumlah pengamat menilai ketimpangan tersebut masih lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara maju lain seperti Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat.

Kritikus juga menyoroti kondisi di beberapa kawasan hiburan Jepang yang kerap dipenuhi sampah dan puntung rokok setelah aktivitas malam hari, sehingga dianggap tidak sepenuhnya sejalan dengan citra kebersihan yang ditampilkan di stadion.

Di sisi lain, banyak pihak membela kebiasaan suporter Jepang memunguti sampah seusai pertandingan.

Profesor Ilmu Politik dan Sejarah Universitas Sophia, Koichi Nakano, menjelaskan bahwa budaya tersebut berakar dari sistem pendidikan Jepang. Sejak sekolah dasar, siswa dibiasakan membersihkan ruang kelas, koridor, hingga halaman sekolah secara mandiri.

Menurutnya, kebiasaan itu kemudian terbawa hingga dewasa dan diterapkan dalam berbagai aktivitas sosial, termasuk saat menghadiri pertandingan olahraga.

Selain faktor pendidikan, minimnya tempat sampah umum di Jepang juga membuat masyarakat terbiasa membawa pulang sampah mereka sendiri.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: