Netanyahu Ogah Ikuti Kesepakatan Iran-Amerika: Pasukan Israel Akan Tetap Bertahan di Lebanon
Kredit Foto: Istimewa
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menunjukkan sikap yang berseberangan dengan upaya deeskalasi yang tengah dibangun oleh Amerika Serikat (AS) dan Iran usai perundingan tingkat tinggi di Swiss.
Di tengah munculnya mekanisme baru untuk mencegah konflik kawasan meluas, Netanyahu justru menegaskan bahwa militer Israel tetap memiliki kebebasan penuh untuk melancarkan operasi di Lebanon selatan dan tidak akan menarik pasukannya dari zona keamanan perbatasan.
Baca Juga: 'Dia Harus Jaga Ucapannya,' Presiden Amerika Ngamuk dan Ancam Ambil Seluruh Wilayah Iran
"Instruksi saya dan Menteri Pertahanan kepada IDF jelas dan tidak berubah. Para pejuang kami di Lebanon selatan memiliki kebebasan penuh untuk bertindak menggagalkan setiap ancaman langsung maupun ancaman yang berkembang terhadap mereka dan warga Israel di wilayah utara," kata Netanyahu, dikutip Selasa (23/6).
Ia menegaskan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) tidak memiliki pembatasan dalam menjalankan operasi militer di wilayah tersebut.
Menurut Netanyahu, keberadaan pasukan Israel di Lebanon selatan akan terus dipertahankan selama dianggap diperlukan untuk melindungi warga Israel yang tinggal di wilayah utara negara itu.
"Sikap saya tegas, kami akan tetap berada di zona keamanan di Lebanon selatan selama diperlukan untuk melindungi warga Israel di wilayah utara dan seluruh warga negara Israel," ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah perundingan antara delegasi Amerika Serikat dan Iran di Swiss berakhir dengan sejumlah kemajuan diplomatik.
Delegasi Amerika yang dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance mengumumkan salah satu hasil penting dari pembicaraan tersebut adalah pembentukan mekanisme dekonflik atau deconfliction mechanism.
Mekanisme itu dirancang untuk meningkatkan komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat konflik di kawasan Timur Tengah ketika ketegangan meningkat, sehingga insiden di lapangan tidak berkembang menjadi perang yang lebih besar.
Menurut Vance, sistem tersebut akan memungkinkan Israel, Lebanon, kelompok Hizbullah dan sejumlah mitra regional lainnya berkomunikasi lebih cepat saat terjadi eskalasi.
Langkah itu menjadi bagian dari upaya Washington dan Teheran untuk menjaga stabilitas kawasan setelah kedua negara menjalani serangkaian negosiasi intensif terkait isu keamanan regional dan program nuklir Iran.
Namun, sikap Netanyahu yang menegaskan tidak akan membatasi operasi militer Israel di Lebanon selatan dipandang sebagai sinyal bahwa Tel Aviv belum sepenuhnya sejalan dengan semangat deeskalasi yang sedang dibangun melalui jalur diplomasi Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: Jelang Sidang Ijazah Palsu, Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditawari Opsi Berdamai dengan Jokowi
Dengan tetap mempertahankan pasukan di zona keamanan serta memberikan keleluasaan penuh kepada militer untuk melakukan serangan pencegahan, Israel menunjukkan bahwa kepentingan keamanannya akan tetap menjadi prioritas utama, terlepas dari perkembangan negosiasi yang berlangsung di Swiss.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: