- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Importir BBM Gerah! Bahlil Bongkar Impor Bensin RI Tinggal Separuh, Target Berikutnya Stop Total
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap adanya pihak-pihak yang tidak senang dengan langkah pemerintah menekan impor bahan bakar minyak (BBM), terutama bensin, karena volume impor Indonesia kini terus menyusut.
Menurut Bahlil, impor bensin Indonesia saat ini hanya sekitar 20 juta kiloliter (KL) per tahun, jauh lebih rendah dibandingkan total kebutuhan nasional yang mencapai sekitar 40 juta KL.
Dalam Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun 2026, Bahlil bahkan secara terbuka menyebut para importir mulai merasa terganggu dengan kebijakan pemerintah yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap BBM dari luar negeri.
"Jadi sekarang tinggal kita impor bensin tinggal 20 juta kiloliter. Ini memang para importir marah ke gue nih. Karena pikiran saya ke depan adalah enggak boleh kita impor," kata Bahlil.
Ia menjelaskan kemampuan produksi bensin dalam negeri terus meningkat setelah beroperasinya kilang baru di Kalimantan Timur.
Sebelum fasilitas tersebut beroperasi, produksi bensin nasional hanya berada di kisaran 14,25 juta KL per tahun.
Namun tambahan kapasitas sekitar 5,5 juta KL membuat produksi nasional kini mendekati 20 juta KL, sehingga ketergantungan terhadap impor berhasil ditekan secara signifikan.
Bahlil menegaskan pemerintah tidak ingin berhenti sampai di situ.
Ia menargetkan Indonesia bisa semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan energi nasional tanpa harus bergantung pada pasokan dari luar negeri.
"Karena pikiran saya ke depan adalah enggak boleh kita impor," tegasnya kembali.
Selain bensin, pemerintah juga mengklaim telah berhasil mengurangi ketergantungan impor solar melalui program biodiesel yang terus ditingkatkan hingga implementasi B50.
Menurut Bahlil, kebutuhan solar nasional yang mencapai sekitar 39 juta KL kini dapat dipenuhi melalui kombinasi produksi dalam negeri dan pencampuran biodiesel berbasis sawit.
Keberhasilan program B50 menjadi alasan pemerintah mulai menyiapkan strategi serupa untuk bensin melalui pemanfaatan bioetanol.
Pemerintah saat ini tengah mendorong penggunaan campuran etanol pada bensin melalui skema E10 hingga E20 untuk menekan kebutuhan impor di masa depan.
"Kalau B50 bisa kita memenuhi kebutuhan solar kita, kenapa bensin enggak?" ujar Bahlil.
Ia menilai pengurangan impor BBM menjadi langkah penting di tengah situasi geopolitik global yang masih penuh ketidakpastian.
Selain memperkuat ketahanan energi nasional, kebijakan tersebut juga diyakini mampu mengurangi tekanan terhadap kebutuhan devisa negara.
Bahlil mengungkapkan Indonesia saat ini harus mengeluarkan devisa sekitar US$30 miliar atau sekitar Rp538 triliun setiap tahun untuk membeli BBM dari luar negeri.
Menurutnya, jika impor berhasil ditekan lebih jauh, kebutuhan dolar AS juga akan berkurang sehingga berpotensi membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Ketika permintaan kita kepada dolar tidak terlalu besar, maka saya yakin nilai tukar kita juga akan semakin membaik. Devisa kita yang paling keluar, paling banyak itu adalah untuk membeli BBM," katanya.
Tak hanya itu, pemerintah juga mulai mengkaji kemungkinan transaksi pembelian energi menggunakan mata uang selain dolar AS sebagai bagian dari strategi diversifikasi perdagangan internasional.
"Kalau bisa belanja di negara lain tidak pakai dolar, mungkin itu salah satu alternatif juga supaya ada diversifikasi," tutur Bahlil.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: