Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BBM Subsidi Tak Naik Meski Harga Minyak Meledak, Bahlil Bongkar Rahasia

BBM Subsidi Tak Naik Meski Harga Minyak Meledak, Bahlil Bongkar Rahasia Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan harga BBM subsidi tidak akan dinaikkan meski harga minyak mentah sempat menembus di atas US$100 per barel. 

Kondisi ini jelas menambah tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), karena pemerintah harus menahan agar harga BBM subsidi tetap stabil.

Bahlil mengaku sudah berdiskusi dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai strategi menjaga agar subsidi tetap berjalan di tengah gejolak geopolitik. Dalam APBN 2026, subsidi BBM dipatok sekitar Rp200 triliun dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$70 per barel, yang memberi pemasukan negara sekitar US$10,8 miliar.

"Saya rapat sama pak Menkeu, gimana caranya mendapat duit? Saya bilang begini, sekarang subsidi kita itu kan kurang lebih, harga ICP US$ 70, itu total pendapatan negara kita US$ 10,8 miliar. Dengan asumsi subsidi kita kurang lebih sekitar Rp 200 triliun," ujarnya dalam acara CNBC Energy Forum 2026, Jakarta Pusat, dikutip Jumat (26/6).

Namun ketika harga minyak melonjak ke atas US$100 per barel, kebutuhan subsidi bisa bertambah Rp200–250 triliun. Bahlil menekankan, beban tambahan itu tidak serta-merta membuat harga BBM subsidi naik, karena pemerintah harus melindungi masyarakat berpenghasilan rendah.

"Kalau harga ICP-nya US$ 100 maka ada penambahan subsidi sekitar Rp 200 - 250 triliun. Pertanyaan waktu itu, orang, sempat naik menjadi US$ 119 per barel ICP. Pada saat itu semua bingung, gimana caranya? Boleh (harga BBM subsidi) naikkan? Saya katakan nggak. Untuk saudara-saudara kita yang ekonominya di bawah, kita harus protect," tegas Bahlil.

Ia menjelaskan, kenaikan ICP dari US$70 ke US$100 per barel justru meningkatkan penerimaan negara hingga US$17,6 miliar. Dari selisih pendapatan sekitar US$7 miliar, pemerintah bisa menutup hampir 50% kebutuhan tambahan subsidi.

"US$ 7 miliar kali Rp 17.500 waktu itu asumsi rata-rata, kurang lebih sekitar Rp 120-130 triliun, Rp 125-130 triliun, pakai kalkulator saja itu, saya tidak mau ngomong angka makanya sekitar saja. Itu berarti, kita sudah mempunyai 50% dari total menutup subsidi tambahan," terangnya.

Baca Juga: Importir BBM Gerah! Bahlil Bongkar Impor Bensin RI Tinggal Separuh, Target Berikutnya Stop Total

Selain itu, Kementerian ESDM juga menaikkan royalti mineral dan batu bara, yang menambah pemasukan Rp30–35 triliun. Dengan kombinasi ini, total dana sekitar Rp160 triliun berhasil dikumpulkan untuk menahan kenaikan harga BBM subsidi.

"Saya putar lagi otak, saya naikkan royalti daripada nikel dan batu bara, dan komoditas lain. Itu dapat tambahan Rp 30 - 35 triliun. Jadi totalnya sudah Rp 160 triliun dari sektor ESDM untuk menambal penambahan subsidi dari ketidaknaikan harga BBM itu. Sisanya baru lakukan efisiensi dari tempat lain," ucap Bahlil.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya