Tarik Investasi dari Korea Selatan, Purbaya Jajakan Hilirisasi Hingga Ekosistem EV
Kredit Foto: Cita Auliana
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan lima strategi untuk memperkuat kemitraan ekonomi Indonesia dan Korea Selatan guna mendorong investasi, perdagangan, pembangunan infrastruktur, hingga pengembangan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Strategi tersebut disampaikan dalam Korea-Indonesia Economic Partnership Forum 2026 di Jakarta, Jumat (26/6).
Purbaya menegaskan pemerintah berkomitmen menjaga resiliensi ekonomi nasional sekaligus meningkatkan daya tarik investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Menurutnya, strategi pertama adalah mempercepat realisasi investasi melalui penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam Bottlenecking Task Force untuk menyelesaikan berbagai hambatan regulasi maupun operasional yang dihadapi investor.
Pemerintah, kata dia, memastikan setiap penyelesaian kendala investasi dipantau langsung oleh Presiden guna menciptakan iklim usaha yang lebih pasti.
Strategi kedua adalah mengoptimalkan implementasi Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) melalui pemanfaatan fasilitas pembebasan dan penurunan tarif guna meningkatkan arus perdagangan serta memperkuat integrasi rantai pasok kedua negara.
Ketiga, pemerintah mendorong optimalisasi pemanfaatan Economic Development Cooperation Fund (EDCF) senilai 1,5 miliar dolar AS untuk periode 2022–2026. Dana tersebut diarahkan untuk mendukung pembiayaan proyek infrastruktur prioritas, seperti penyediaan air bersih, sanitasi, infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta pembangunan smart city.
Strategi keempat difokuskan pada penguatan hilirisasi industri masa depan dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Pemerintah mengajak perusahaan Korea Selatan mengombinasikan keunggulan teknologi dengan potensi sumber daya mineral Indonesia, khususnya nikel, untuk membangun rantai pasok baterai yang terintegrasi.
Purbaya menyebut Indonesia saat ini menguasai sekitar 50–60 persen pasokan nikel global yang menjadi bahan baku utama industri baterai kendaraan listrik.
Strategi kelima adalah menjaga kepastian kebijakan investasi melalui pengelolaan fiskal yang sehat, penguatan agenda pertumbuhan hijau, serta penciptaan regulasi yang kompetitif bagi investasi jangka panjang.
Dalam kesempatan itu, Purbaya juga memaparkan kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai tetap solid. Pada triwulan I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen dengan inflasi terkendali di level 3,08 persen.
Baca Juga: Modal Rp115,94 Miliar, Korea Selatan Ingin Bangun Sejong di IKN
Baca Juga: WNI Kini Bisa ke Korea Tanpa Visa, Tapi Ternyata Ada Syarat Khusus
“Kinerja ekonomi Indonesia tetap lebih kuat dibandingkan beberapa negara sejawat lainnya. Resiliensi ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat dan inflasi yang relatif rendah,” ujar Purbaya.
Ia menambahkan, ketahanan ekonomi nasional juga ditopang oleh surplus neraca perdagangan yang bertahan selama 72 bulan berturut-turut hingga April 2026, cadangan devisa setara 5,5 bulan impor, serta pertumbuhan penyaluran kredit yang tetap berada pada kisaran dua digit dengan likuiditas sistem keuangan yang terjaga.
“Saya sangat yakin bahwa kerja sama yang lebih dalam dengan Korea Selatan melalui kerangka perdagangan yang maju, pembiayaan infrastruktur strategis, dan ekosistem baterai sirkular yang berkelanjutan akan memberikan manfaat yang berarti bagi kedua negara,” pungkas Purbaya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri