Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Melemah ke Rp17.891 per Dolar AS, BI dan Kemenkeu Perkuat Koordinasi Mitigasi Risiko

Rupiah Melemah ke Rp17.891 per Dolar AS, BI dan Kemenkeu Perkuat Koordinasi Mitigasi Risiko Kredit Foto: Antara/Reno Esnir
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (30/6/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.891 per dolar AS, turun 40 poin atau 0,22 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.851 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah masih kuatnya permintaan terhadap dolar AS dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi global. 

Pelaku pasar juga masih mencermati sejumlah sentimen eksternal yang berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) hingga ketidakpastian geopolitik global masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah.

Di dalam negeri, pemerintah memperkuat koordinasi fiskal dan moneter untuk mengantisipasi dampak perlambatan ekonomi dan ketidakpastian global terhadap perekonomian nasional.

Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco, mengatakan rapat koordinasi yang digelar di DPR membahas berbagai upaya menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Rapat koordinasi untuk pertumbuhan ekonomi sekaligus juga rapat untuk mitigasi beberapa hal yang terjadi belakangan ini," kata Dasco dalam jumpa pers di Gedung DPR, Jakarta, Senin (29/6/2026).

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti menegaskan bank sentral terus menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka pendek, terutama terkait nilai tukar rupiah dan likuiditas di pasar keuangan.

BI telah menaikkan suku bunga acuan atau BI rate sebesar 100 basis poin (bps) menjadi 5,75% pada Juni 2026.

Dari sisi fiskal, Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung memastikan kondisi keuangan negara masih terjaga dengan baik. Ia menyebut defisit anggaran saat ini berada di level 0,7 persen dan diperkirakan tetap berada di bawah batas 3 persen hingga akhir 2026.

Selanjutnya Menteri ESDM, Bahli Lahadalia menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga keberlanjutan industri dan lapangan kerja. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mempertahankan harga gas bumi tertentu (HGBT) di kisaran US$6,5 hingga US$7 per MMBTU di tengah melonjaknya harga gas alam cair (LNG) di pasar global.

Kenaikan harga LNG dipicu penurunan produksi sejumlah kilang di wilayah Jawa Barat sehingga pasokan harus dipenuhi dari LNG yang berasal dari Papua, Sulawesi, Kalimantan, dan wilayah luar Jawa lainnya. Harga LNG di pasar saat ini mencapai US$20 hingga US$23 per MMBTU.

Kondisi tersebut mendorong sektor industri meminta pemerintah turun tangan untuk menjaga daya saing dan mencegah tekanan terhadap lapangan pekerjaan. Atas arahan Presiden, Bahlil berupaya menekan harga gas untuk industri ke kisaran US$15 hingga US$16 per MMBTU guna menjaga keberlangsungan usaha dan penyerapan tenaga kerja.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra