Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tiga Jenis Negara Menurut Tiyo Ardianto: Negara CEO, Mandor dan Negara Buruh, 'Indonesia yang Terakhir, Kita Enggak Bangga'

Tiga Jenis Negara Menurut Tiyo Ardianto: Negara CEO, Mandor dan Negara Buruh, 'Indonesia yang Terakhir, Kita Enggak Bangga' Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, menyampaikan kritik terhadap arah pembangunan dan identitas bangsa Indonesia.

Menurutnya, Indonesia belum mampu mendefinisikan jati dirinya secara utuh sehingga terjebak dalam sistem global yang menempatkannya sebagai "negara buruh".

Dalam sebuah diskusi dengan Caknun, Tiyo membagi konstelasi global ke dalam tiga kategori, yakni negara CEO, negara mandor, dan negara buruh.

Ia menjelaskan negara CEO merupakan negara yang memiliki kekuatan modal dan teknologi, seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Uni Eropa. Sementara negara mandor berperan sebagai penyedia barang dan jasa yang mendukung kebutuhan negara maju.

"Negara buruh adalah negara yang diminta bekerja keras, diminta memasok bahan mentah, tapi ya tidak dapat apa-apa. Indonesia ada di posisi ini (negara buruh)," ujar Tiyo.

Tiyo juga menyoroti persoalan budaya politik yang menurutnya masih dipengaruhi mentalitas feodal dan warisan kolonial.

Menurut dia, Indonesia belum sepenuhnya membangun sistem demokrasi yang terbebas dari pola pikir masa lalu. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti hubungan antargenerasi yang terus mewariskan pola yang sama.

"Mentalitas kita ini feodal dan kolonial. Indonesia itu ibarat anak yang durhaka pada orang tuanya, lalu setelah dia tumbuh besar, dia gantian durhaka kepada anaknya sendiri," katanya.

Ia menilai perpaduan antara budaya feodal dan sistem demokrasi modern menimbulkan ketidaksesuaian dalam praktik kehidupan bernegara.

Selain itu, Tiyo juga berpendapat kemajuan Indonesia tidak akan dicapai dengan meniru negara lain, melainkan melalui penguatan identitas nasional dan penerimaan terhadap sejarah bangsa sendiri.

"Indonesia itu akan maju kalau dia jadi dirinya sendiri. Kalau Indonesia berhasrat pengin jadi Amerika Serikat (AS), sejak memiliki hasrat jadi AS itu, Indonesia pasti tidak akan maju," ujarnya.

Di akhir penyampaiannya, Tiyo mengajak masyarakat untuk merefleksikan kembali rasa bangga terhadap Indonesia di tengah berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.

"Sekecewa-kecewanya kita, harusnya kita bangga terhadap Indonesia. Tapi hari ini, Indonesia ini apa yang mau dibanggakan? Selain fakta bahwa kita masih hidup dan negara ini belum hancur?" pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat