Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Perebutkan Tahta Khamenei, Oposisi Rezim Iran Saling Ribut hingga Bikin Resah di Prancis

Perebutkan Tahta Khamenei, Oposisi Rezim Iran Saling Ribut hingga Bikin Resah di Prancis Kredit Foto: Reuters/Murad Sezer
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kelompok Oposisi Iran berseteru sesama kelompok dan kini mulai meresahkan pemerintahan hingga masyarakat di Prancis. Otoritas setempat bahkan memutuskan membatalkan demonstrasi besar mereka setelah muncul kekhawatiran bahwa rivalitas internal mereka dapat berujung pada aksi kekerasan di Paris.

Dikutip dari Reuters, Rabu (1/7), Keputusan tersebut diambil hanya beberapa jam sebelum demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Juni 2026. Kepolisian Paris menyatakan pembatalan dilakukan karena situasi keamanan dinilai sangat sensitif di tengah meningkatnya ketegangan nasional maupun internasional.

Baca Juga: Konsentrasi Prabowo Terganggu dengan Adanya Safari Politik Jokowi, Kata Pengamat

Langkah itu didasarkan pada hasil penilaian intelijen yang memperingatkan adanya ancaman serius dari kelompok-kelompok oposisi Iran yang saling bersaing memperebutkan pengaruh.

Laporan intelijen menyebut terjadi "perang pengaruh" yang semakin tajam antara Dewan Nasional Perlawanan Iran (NCRI), Organisasi Mujahidin Rakyat Iran (PMOI/MEK) dengan Kelompok Monarki Pendukung Reza Pahlavi. Kedua kubu disebut sama-sama berupaya menampilkan diri sebagai satu-satunya oposisi yang sah di mata masyarakat internasional.

Kekhawatiran Prancis semakin meningkat setelah aparat menerima informasi mengenai ancaman dari sejumlah aktivis yang berafiliasi dengan kelompok monarki.

Dalam dokumen intelijen disebutkan seorang tokoh monarki yang dikenal kerap melontarkan ancaman terhadap pejabat mengajak para pendukungnya untuk menghalangi jalannya demonstrasi PMOI.

Laporan tersebut juga menyebut beredarnya sejumlah video di media sosial yang memperlihatkan tokoh tersebut memegang senjata api semiotomatis serta memperlihatkan uji coba senjata hasil cetak tiga dimensi.

Tak hanya itu, aparat keamanan juga menerima ancaman yang lebih serius. Sejumlah individu bahkan dilaporkan menggunakan simbol-simbol yang identik dengan Badan Intelijen era Shah Iran (SAVAK). Mereka dilaporkan mengancam akan meledakkan bom apabila demonstrasi tetap dilaksanakan.

Namun Kepolisian Paris, Kementerian Dalam Negeri Prancis dan Badan Intelijen Domestik Prancis (DGSI) belum memberikan komentar mengenai keaslian dokumen intelijen tersebut.

Demonstrasi yang dibatalkan itu sejatinya diperkirakan akan dihadiri ribuan peserta dari berbagai negara. Selain Organisasi Mujahidin Rakyat Iran, aksi tersebut juga diperkirakan melibatkan kelompok dari berbagai komunitas suku hingga organisasi komunis dan sosialis.

Di sisi lain, laporan intelijen juga tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian ancaman berasal dari pemerintah dari Iran. Hal itu bisa dilakukan melalui pihak-pihak yang bertindak sebagai perantara atau proksi.

Selama ini mereka diketahui telah melarang aktivitas NCRI. Tak hanya itu, mereka juga secara konsisten mendesak dunia untuk menindak aktivitas organisasi tersebut. Media Iran juga secara rutin mengecam kelompok tersebut sebagai kelompok yang menentang pemerintahan dari Teheran.

Kasus pembatalan demonstrasi ini menunjukkan bahwa konflik di tubuh oposisi dari Iran. Ia kini tidak hanya berdampak pada dinamika politik internal mereka, tetapi juga mulai menimbulkan persoalan keamanan di negara lain.

Baca Juga: Bernyanyi hingga Menari, Pejabat Amerika Rayakan Kegagalan Iran Masuk Fase Gugur di Piala Dunia 2026

Bagi Prancis, rivalitas antarkelompok oposisi yang disertai ancaman kekerasan menjadi risiko yang tidak dapat diabaikan sehingga pembatalan aksi dipilih sebagai langkah untuk menjaga ketertiban dan keselamatan publik.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar

Tag Terkait: