Konsentrasi Prabowo Terganggu dengan Adanya Safari Politik Jokowi, Kata Pengamat
Kredit Foto: Istimewa
Safari Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke Lampung dinilai berpotensi mengganggu konsentrasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Manuver politik tersebut disebut dapat mengurangi fokus seluruh kekuatan politik yang seharusnya bersinergi mendukung pemerintahan dalam menjalankan agenda pembangunan nasional
Pengamat Politik Citra Institute, Efriza menilai kunjungan mantan presiden tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi, melainkan memiliki muatan politik yang kuat.
Baca Juga: Safari Politik ke Lampung Bikin Jokowi Kena Semprot Ketua DPR: Jaga Situasi Tetap Adem Ya
Menurut Efriza, safari politik tersebut mengubah persepsi publik mengenai hubungan Jokowi dan Prabowo. Kehadiran Jokowi di Lampung hingga menerima gelar adat "Baginda Pemuka Bangsa" dinilai memunculkan kesan adanya agenda politik di luar pemerintahan.
"Jelas safari politik Jokowi bermuatan politis, yang malah ia mengganggu sinergi seluruh partai untuk berkonsentrasi mewujudkan kesejahteraan masyarakat bersama Prabowo," ujar Efriza, dikutip Rabu (1/7).
Ia berpandangan, apabila perhatian elite politik kembali tersedot pada manuver-manuver politik pasca-pilpres, maka ruang bagi pemerintahan untuk bekerja secara optimal akan semakin terbatas. Menurutnya, situasi tersebut berpotensi mengganggu upaya pemerintah dalam merealisasikan berbagai program yang ditujukan bagi masyarakat.
Efriza juga menyoroti keterlibatan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Jokowi. Dalam pandangannya, langkah keterlibatan partai tersebut dalam rangkaian safari politik mantan presiden itu menunjukkan sikap yang kurang tepat mengingat politikus itu telah menyelesaikan masa jabatannya sebagai presiden.
"Ia sudah purna tugas, tidak perlu lagi membangun citra. Biar itu jadi penilaian masyarakat, bukan seolah suatu daerah yang didatangi dimobilisasi untuk memberikan simbol citra yang bagus untuk Jokowi," katanya.
Menurut Efriza, Jokowi selama berada safarinya juga memperlihatkan upaya menonjolkan berbagai capaian selama menjabat sebagai presiden. Hal itu dinilai berpotensi memunculkan persepsi bahwa safari politik tersebut lebih berorientasi pada pencitraan dibanding sekadar kunjungan biasa.
"Jadi penilaiannya lebih kepada tidak eloknya dia bersafari sambil ditengarai melakukan mobilisasi pencitraan dalam simbolik keberhasilan kinerjanya," ujarnya.
Efriza menilai langkah tersebut dapat memengaruhi soliditas politik di sekitar pemerintahan dari Prabowo. Apalagi Jokowi berencana melanjutnya safari politiknya dari Lampung.
"Jelas tergambarkan bahwa dia bukan lagi pendukung pemerintah yang loyal, tetapi kedunya adalah bak duri dalam daging bagi pemerintah," kata Efriza.
Safari Jokowi sendiri dimulai dari Lampung di Juni 2026. Dalam kunjungan tersebut, ia menerima gelar adat "Baginda Pemuka Bangsa" melalui prosesi adat yang digelar masyarakat Lampung.
Baca Juga: Rayakan Lewat Nyari dan Menari, Amerika Bahagia Iran Akhirnya Gagal Ukir Sejarah di Piala Dunia 2026
Manuver tersebut memunculkan beragam respons dari kalangan politik. Di satu sisi dipandang sebagai hak setiap warga negara untuk melakukan kunjungan ke daerah, namun di sisi lain dinilai berpotensi memunculkan dinamika politik baru yang dapat mengganggu konsentrasi pemerintahan dalam menjalankan agenda pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: