Kredit Foto: PT Pupuk Indonesia (Persero)
Wakil Menteri Luar Negeri RI, Havas Oegroseno, mengatakan RI tengah mengkaji kemungkinan membangun pabrik pupuk di Australia. Hal ini ia sampaikan saat menghadiri seminar Maritim PPAL 'di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Havas melihat peluang indonesia dalam hal ini cujup besar mengingat ketergantungan Australia pada pupuk ke Timur Tengah cukup besar, sementara jarak dan kondisi geopolitik menjadi tantangan tersendiri bagi negeri kanguru itu mendapatkan pasokan pupuk.
''Kemarin misalnya saya ke Darwin itu untuk melihat kemungkinan kita bikin pabrik pupuk di sana. Karena tadi itu kemungkinan sulit bagi Australia untuk dapat pupuk dari Timur Tengah,'' ungkpanya.
Ia melanjutkan bahwa Australia juga menyatakan rasa terimakasihnya atas suplai pupuk dari Indonesia yang dilakukan sebelumnya pada rabu 14/5/2026.
Ekspor perdana senilai 47.250 ton pupuk urea atau senilai rp 600 miliar tersebut merupakan tahap awal dari komitmen kerjasama sebesar 250 ribu ton dan akan terus ditingkatkan hingga 500 ribu ton dengan total nilai rp 7 triliun.
''mereka merasa sangat terbantu karena kita membantu dengan urea pupuk. Karena mereka beli urea biasanya dari Timur Tengah, tidak bisa lagi, lalu mereka cari source tidak ada, kita yang bantu,'' lanjtunya.
Baca Juga: Pertamina dan Pupuk Indonesia Jajaki Kolaborasi Strategis Perkuat Ketahanan Energi dan Pangan
Atas dasar tersebut kemudian ri juga memperoleh suplaiĀ lpg dari autralia. Meski tidak mengatakan jumlahnya, dalam catatan warta ekonomi, skk migas melaporkan bahwa suplai lpg dari australia mencapai 2 kargo guna memenuhi kebutuhan dalam negeri.
''Sementara kita juga mendapatkan LPG dari Australia. Jadi ini menciptakan suatu kondisi yang memaksa negara harus diversifikasi dan de-risking,'' tambahnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: