Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Demi Keuntungan, Iran Diam-diam Sengaja Pancing Kemarahan Trump: Mereka Sedang Memperolok Amerika

Demi Keuntungan, Iran Diam-diam Sengaja Pancing Kemarahan Trump: Mereka Sedang Memperolok Amerika Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketegangan Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan setelah seorang analis militer senior menilai tengah ada upaya memperolok Presiden Amerika Serikat, Donald Trump di Timur Tengah. Hal tersebut dilakukan melalui serangkaian aksi yang memicu eskalasi konflik di Selat Hormuz.

Ketua Killowen Group dan Eks Perwira Angkatan Laut Amerika Serikat Harlan Ullman mengatakan ada perhitungan matang dari langkah yang dilakukan Iran. Menurutnya, tindakan mereka tidaklah spontan, melainkan sebuah strategi yang telah diperhitungkan untuk menekan posisi dari Amerika Serikat.

Baca Juga: Usaha Amerika Sia-sia, Iran Ogah Tunduk Meski Dihujani Serangan dan Sanksi: Era Itu Sudah Berakhir

Ullman mengatakan eskalasi yang terjadi saat ini merupakan kondisi yang sangat berbahaya dan berpotensi berkembang menjadi perang berskala regional apabila kedua pihak gagal menahan diri.

"Ini adalah momen yang sangat genting dan apa pun bisa terjadi, termasuk eskalasi konflik," kata Harlan Ullman, dikutip Rabu (8/7).

Meski demikian, ia menilai baik kedua negara sama-sama memiliki kepentingan untuk menghindari perang besarkarena konflik terbuka tidak akan menguntungkan kedua belah pihak di Timur Tengah

"Kita harus menunggu apa yang akan terjadi dalam beberapa hari ke depan, tetapi situasi ini sangat, sangat serius. Namun kepentingan kedua pihak adalah menjaga agar situasi tetap terkendali karena perang regional besar bukan kepentingan siapa pun," ujarnya.

Iran sendiri menurutnya bersalah atas serangan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. Namun menurutnya, waktu pelaksanaan serangan menunjukkan adanya perhitungan strategis dari Teheran.

Ia menyoroti bahwa serangan tersebut terjadi bertepatan dengan prosesi pemakaman pemimpin tertinggi Iran yang berlangsung selama beberapa hari, serta ketika para pemimpin dunia sedang menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Turki.

Menurut Ullman, momentum tersebut dipilih secara sengaja karena akan membatasi opsi militer dari Amerika Serikat. Hal tersebut memberikan sedikit kebebasan untuk Iran.

"Menurut pandangan saya, mereka sedang memperolok Amerika Serikat," tegas Ullman.

Ia menjelaskan bahwa mereka kemungkinan memperkirakan adanya kesulitan merespons secara maksimal dari Trump. Pasalnya, serangan balasan yang mengenai prosesi pemakaman berpotensi menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar dan dapat dipandang sebagai kejahatan perang oleh masyarakat internasional.

Dengan kondisi tersebut, mereka diyakini berusaha menempatkan musuhnya pada posisi yang serba sulit, baik dari sisi militer maupun diplomatik.

"Iran melakukan ini dengan alasan yang sudah direncanakan sebelumnya. Saya percaya tujuannya adalah memperkuat posisi mereka dalam perundingan dengan memberikan tekanan tambahan kepada Amerika Serikat," lanjut Ullman.

Selain berdampak terhadap situasi keamanan, ia juga memperingatkan bahwa meningkatnya ketegangan berpotensi mengguncang pasar energi global. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia sehingga setiap konflik di kawasan itu dapat memicu lonjakan harga minyak.

Menurutnya, kenaikan harga energi juga akan memberikan tekanan tambahan terhadap Trump. Hal itu terutama karena ia masih kesulitan dalam menghadapi tantangan ekonomi dan geopolitik yang semakin kompleks.

Baca Juga: Selebrasi Roy Suryo Terlalu Dini, Jokowi Diam-diam Kantongi Detail Krusial Praperadilan Kasus Ijazah

Meski situasi masih berkembang, analisis ini menunjukkan bahwa konflik yang terjadi saat ini bukan sekadar aksi militer biasa. Iran dinilai tengah memainkan strategi politik dan diplomasi untuk memperkuat posisi tawarnya, sekaligus menguji respons Amerika Serikat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar