Kredit Foto: Kemenprin
Indonesia memanfaatkan ajang INNOPROM 2026 di Yekaterinburg, Rusia, untuk memperkuat daya saing industri agro nasional sekaligus memperluas akses pasar ke kawasan Eurasia. Sebagai Official Partner Country pada pameran industri terbesar di kawasan tersebut, Indonesia membawa berbagai produk unggulan dari sembilan pelaku industri nasional sebagai bagian dari upaya mendorong investasi, perdagangan, dan kemitraan industri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, industri agro merupakan salah satu sektor strategis yang menjadi tulang punggung manufaktur Indonesia. Dengan dukungan sumber daya alam yang melimpah serta kemampuan menghasilkan produk bernilai tambah, sektor ini dinilai memiliki peluang besar untuk semakin kompetitif di pasar global.
"Melalui partisipasi sebagai Official Partner Country pada INNOPROM 2026, Indonesia ingin memperluas peluang investasi, perdagangan, dan kemitraan industri yang saling menguntungkan dengan negara-negara di kawasan Eurasia," ujar Agus dalam keterangan resminya, Selasa (8/7/2026).
Optimisme tersebut ditopang oleh kinerja industri agro yang terus menunjukkan tren positif. Pada triwulan I 2026, sektor ini menyumbang 52,37 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas atau sekitar 9,12 persen terhadap PDB nasional. Pertumbuhannya mencapai 5,70 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain menjadi kontributor terbesar bagi industri manufaktur, sektor agro juga menyerap sekitar 10 juta tenaga kerja. Dari sisi perdagangan, ekspor industri agro pada triwulan I 2026 mencapai 18,92 miliar dollar AS dengan surplus neraca perdagangan sebesar 13,78 miliar dollar AS.
Indonesia juga mempertahankan posisinya sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan kapasitas produksi lebih dari 51 juta ton crude palm oil (CPO) dan crude palm kernel oil (CPKO) per tahun. Di samping itu, Indonesia merupakan salah satu produsen utama komoditas unggulan seperti karet, kopi, kakao, rumput laut, hingga minyak atsiri.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengatakan INNOPROM 2026 menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi industri agro Indonesia sekaligus memperluas jejaring bisnis dengan mitra di Rusia dan negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU).
"Indonesia memiliki potensi besar pada sektor agro dan pengolahan pangan yang didukung ketersediaan bahan baku, kapasitas produksi, serta kemampuan pengolahan yang terus berkembang. Melalui INNOPROM 2026, kami ingin memperluas jejaring bisnis sekaligus memperkenalkan produk industri agro Indonesia kepada mitra potensial di kawasan Eurasia," ujarnya.
Menurut Putu, Indonesia dan Rusia memiliki keunggulan yang saling melengkapi. Indonesia menawarkan komoditas tropis, kapasitas produksi pangan olahan bernilai tambah, serta akses ke pasar Asia Tenggara. Sementara itu, Rusia memiliki keunggulan dalam teknologi pertanian modern, industri pengolahan pangan, logistik, hingga bioteknologi pertanian yang dapat menjadi peluang kolaborasi kedua negara.
Potensi tersebut akan ditampilkan melalui sembilan pelaku industri dan lembaga yang mewakili berbagai subsektor industri agro dan pengolahan pangan nasional. Beragam produk yang dipamerkan mencakup spirulina, kopi spesialti, makanan olahan, produk aromaterapi, kosmetik, hingga produk berbasis pulp dan kertas.
Adapun peserta yang berpartisipasi antara lain PT Alga Bioteknologi Indonesia (ALBITEC), PT Surabaya Indah Permai, PT Canela Megah Jaya, PT MAM Furniture Mitra Abadi Mebel, Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, PT Siantar Top, Badan Pengelola Dana Perkebunan, serta PT Mayora Indah Tbk.
Baca Juga: Kinerja BUMN Menguat, PTPN Jadi Motor Pertumbuhan Agroindustri
Baca Juga: Indonesia Tawarkan Empat Peluang Investasi Industri kepada Mitra Eurasia di INNOPROM 2026
Keikutsertaan para pelaku industri tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ajang promosi produk, tetapi juga membuka peluang bertemu langsung dengan calon mitra bisnis dari Rusia maupun negara-negara anggota EAEU. Salah satu co-exhibitor industri agro Indonesia menyebutkan partisipasi dalam INNOPROM 2026 diharapkan mampu membuka pasar ekspor baru sekaligus memperluas kerja sama bisnis yang berkelanjutan.
Partisipasi sektor industri agro dalam INNOPROM 2026 juga diperkuat dengan implementasi Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) yang ditandatangani pada Desember 2025. Perjanjian tersebut memberikan preferensi tarif bagi sekitar 90,5 persen pos tarif sehingga diharapkan semakin mempermudah produk manufaktur Indonesia memasuki pasar Eurasia.
Melalui kombinasi promosi produk, perluasan jejaring bisnis, dan dukungan perjanjian perdagangan, pemerintah berharap keikutsertaan Indonesia dalam INNOPROM 2026 dapat menghasilkan investasi baru, memperkuat kemitraan industri, sekaligus meningkatkan ekspor produk agro bernilai tambah ke kawasan Eurasia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: