- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
BEI Sesuaikan Target IPO dengan Kondisi Pasar, Bidik 1.100 Emiten pada 2030
Kredit Foto: Istimewa
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka peluang untuk menyesuaikan target pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) setiap tahun seiring dinamika kondisi pasar modal. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tantangan yang masih membayangi pasar keuangan sepanjang 2026.
Meski demikian, BEI memastikan target jangka panjang untuk memiliki lebih dari 1.100 perusahaan tercatat pada 2030 tetap tidak berubah.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan kondisi pasar keuangan global yang masih dipenuhi ketidakpastian membuat sejumlah perusahaan menunda rencana melantai di bursa. Menurutnya, keputusan sebuah perusahaan untuk melakukan IPO sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar agar aksi korporasi tersebut dapat berjalan optimal.
Maka dari itu, target penambahan emiten setiap tahun akan disesuaikan dengan perkembangan pasar tanpa mengubah sasaran jangka panjang yang telah ditetapkan.
"Target yang kami tetapkan adalah lebih dari 1.100 perusahaan tercatat pada tahun 2030. Target tersebut tentu akan di-breakdown setiap tahun dan disesuaikan dengan kondisi pasar pada periode tersebut. Untuk 2030 kami tetap optimistis bisa mencapai lebih dari 1.100 perusahaan tercatat, tetapi target tahunannya akan mengikuti perkembangan kondisi pasar," ujar Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Senin (13/7/2026).
Selain membahas target IPO, BEI juga terus mengkaji berbagai usulan insentif guna meningkatkan daya tarik pasar modal, baik bagi perusahaan yang ingin melantai di bursa maupun bagi investor.
Jeffrey menjelaskan, kajian tersebut telah disampaikan kepada pemerintah. Namun, keputusan mengenai bentuk maupun waktu pemberian insentif sepenuhnya berada di tangan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
"Kewenangan untuk memberikan insentif ada di Kemenkeu. Karena itu, kami menyerahkan bentuk maupun waktu pelaksanaannya kepada pemerintah," katanya.
Salah satu usulan yang tengah dibahas adalah perluasan skema insentif bagi emiten berdasarkan tingkat partisipasi publik dalam kepemilikan saham.
Saat ini, insentif hanya diberikan kepada perusahaan tercatat yang memiliki porsi saham publik (free float) di atas 40%.
Ke depan, BEI membuka ruang diskusi agar perusahaan dengan tingkat free float di bawah 40% juga dapat memperoleh insentif, dengan mempertimbangkan indikator lain, seperti besarnya partisipasi investor publik.
"Tentu ini bisa menjadi bahan diskusi, apakah perusahaan yang free float-nya belum mencapai 40% juga dapat diberikan insentif. Misalnya dengan melihat tingkat partisipasi publik atau indikator lainnya," ungkap Jeffrey.
Baca Juga: BEI Kebanjiran Emiten Baru, 6 IPO Raup Dana Hampir Rp1,9 Triliun
Baca Juga: BEI Targetkan Lebih dari 1.100 Perusahaan IPO hingga 2030
Dia menambahkan, perluasan skema insentif tersebut diharapkan dapat mendorong lebih banyak perusahaan untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan, sekaligus memperkuat partisipasi investor domestik dalam pengembangan pasar modal Indonesia.
Berdasarkan data BEI, sudah ada 963 perusahaan yang menjalani IPO hingga 10 Juli 2026. Dari total itu, sebanyak 7 perusahaan yang resmi IPO sepanjang 2026, dengan nilai dana himpunan sebanyak Rp2,16 triliun.
Ketujuh perusahaan yang IPO, yakni:
- PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) - IPO pada 10 Juli 2026
- PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) - IPO pada 9 Juli 2026
- PT Elsa Medika Mandiri Tbk (EMMI) - IPO pada 8 Juli 2026
- PT Back Multi Global Tbk (BACH) - IPO pada 8 Juli 2026
- PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) IPO pada 7 Juli 2026
- PT Niramas Utama Tbk (JELI) - IPO pada 7 Juli 2026
- PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) - IPO pada 10 April 2026
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dwi Aditya Putra