Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Perusahaan Nasional Dominasi Tender Proyek Bank Dunia

Perusahaan Nasional Dominasi Tender Proyek Bank Dunia Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Warta Ekonomi, Bandung -

BANDUNG, – Keterlibatan perusahaan asing dalam tender proyek pemerintah kembali menjadi sorotan publik setelah Badan Informasi Geospasial (BIG) menggelar pengadaan delapan paket pekerjaan Peta Dasar skala 1:5.000 pada program Integrated Land Administration and Spatial Planning Project (ILASPP) yang mendapat dukungan pembiayaan Bank Dunia.

Sejumlah perusahaan dari luar negeri ikut bersaing bersama perusahaan nasional dalam tender tersebut. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengapa proyek pemerintah Indonesia membuka peluang bagi peserta asing.

Jawabannya terletak pada mekanisme International Competitive Bidding (ICB), yaitu sistem pengadaan yang menjadi standar dalam berbagai proyek yang didukung lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia.

Melalui mekanisme ini, seluruh perusahaan yang memenuhi persyaratan dapat mengikuti tender tanpa membedakan asal negaranya. Bank Dunia menerapkan sistem tersebut untuk mendorong transparansi, persaingan yang sehat, efisiensi, integritas, serta memastikan penggunaan anggaran memberikan nilai terbaik (value for money).

Pengamat hubungan internasional Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, Dr. Kunkunrat, M.Si., menilai keterlibatan perusahaan dari berbagai negara merupakan konsekuensi yang wajar dalam ekonomi global.

Menurutnya, Indonesia masih memerlukan investasi dan kolaborasi internasional pada sejumlah sektor strategis, terutama ketika teknologi yang dibutuhkan belum sepenuhnya tersedia di dalam negeri.

"Pada sektor-sektor tertentu kita memang masih membutuhkan investasi asing, terutama ketika teknologi yang dibutuhkan belum sepenuhnya dimiliki di dalam negeri," ujarnya, Selasa (14/7/2026).

Kunkunrat menegaskan pelaksanaan tender internasional seperti ILASPP tidak menjadi persoalan selama seluruh proses berjalan sesuai aturan dan tetap mengutamakan kepentingan nasional.

Analisis terhadap proses tender delapan paket pekerjaan ILASPP menunjukkan mekanisme ICB benar-benar membuka kompetisi global. Sedikitnya 30 perusahaan mengikuti proses pengadaan, baik sebagai peserta tunggal maupun dalam skema Joint Venture (JV).

Para peserta berasal dari enam negara, yakni Indonesia, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Prancis, dan Tiongkok.

Meski bersifat internasional, perusahaan Indonesia justru mendominasi jumlah peserta.

"Dari total 30 perusahaan yang teridentifikasi, sebanyak 18 perusahaan berasal dari Indonesia sehingga menjadi kelompok peserta terbesar,"ujarnya

Temuan tersebut menunjukkan mekanisme ICB tidak mengurangi peluang perusahaan nasional. Sebaliknya, perusahaan Indonesia tetap memegang peran penting dalam persaingan proyek tersebut.

Mayoritas peserta juga memilih membentuk Joint Venture dengan mitra internasional. Skema ini memungkinkan perusahaan nasional menggabungkan pengalaman, teknologi, tenaga ahli, dan kapasitas teknis untuk mengerjakan proyek pemetaan berskala nasional.

Selain memperluas kolaborasi industri, proyek ILASPP juga berpotensi menyerap ribuan tenaga profesional, mulai dari pilot pesawat survei, operator LiDAR, surveyor lapangan, ahli fotogrametri, analis GIS, pengolah data, hingga tenaga quality assurance dan quality control.

Direktur PT Inovasi Mandiri Pratama (Inovamap), Feri Firmansyah, mengatakan pola kemitraan tersebut sudah menjadi praktik umum dalam proyek geospasial berskala besar yang didukung lembaga internasional.

Baca Juga: Bank Dunia Sebut Tekanan Fiskal Indonesia Bakal Berlanjut hingga 2028

Baca Juga: Alarm Bank Dunia! Kelas Menengah RI Telah Susut Lebih dari 50%

Menurutnya, standar pengadaan dari lembaga donor justru mendorong perusahaan nasional meningkatkan kualitas, tata kelola, dan daya saing agar mampu mengikuti tender internasional, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Feri menilai tantangan terbesar ke depan bukan lagi soal kehadiran perusahaan asing, melainkan memastikan setiap proyek menghadirkan transfer pengetahuan dan teknologi sehingga industri geospasial nasional semakin kuat.

"Melalui mekanisme ICB, ILASPP tidak hanya menghadirkan kompetisi terbuka, tetapi juga menciptakan ruang kolaborasi antara perusahaan nasional dan internasional untuk memperkuat kapasitas industri geospasial Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing sumber daya manusia di masa depan,"pungkasnya

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: