Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BI Rate Berpeluang Naik ke 6%, Rupiah Diproyeksi Menguat

BI Rate Berpeluang Naik ke 6%, Rupiah Diproyeksi Menguat Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Bank DBS Indonesia proyeksikan Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) hingga mencapai 6% sebelum akhir tahun yang berpotensi memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah hingga menguat ke kisaran Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS).

Head of Investment & Insurance Product PT Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, mengatakan proyeksi tersebut merupakan pandangan Chief Investment Office (CIO) DBS Group yang turut mempertimbangkan arah kebijakan moneter Amerika Serikat melalui The Fed.

"Di mana ekspektasinya adalah interest rate Indonesia masih bisa naik satu kali lagi menuju ke 6%, yang akan membuat seharusnya rupiah kita semakin stable, entah di Rp18.000 atau kalau menurut CIO kami bahkan bisa kembali ke Rp17.600," ujar Djoko dalam acara Media Briefing DBS Insights Forum 2026: A New Lens on a Multipolar World, Rabu (15/7/2026).

Ia menilai, arah pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan oleh kebijakan moneter domestik tapi juga sangat dipengaruhi keputusan The Fed. Maka dari itu, proyeksi penguatan rupiah didasarkan pada asumsi bahwa bank sentral AS tidak kembali menaikkan suku bunga hingga akhir tahun.

Seiring tekanan inflasi di Amerika Serikat, kata Djoko, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed kini mulai melemah. Perkembangan data ekonomi terbaru membuka peluang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga.

"Kalau melihat perkembangan sekarang, tampaknya konsensus itu sudah tidak terlalu kuat seperti sebelumnya. Jadi kemungkinan Fed untuk tetap stabil sampai akhir tahun itu masih tetap ada," katanya.

Ia menambahkan, salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah data inflasi (Consumer Price Index/CPI) Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan. Menurutnya, inflasi bulanan bahkan mencatat deflasi untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir.

"Month on month, CPI mereka mengalami minus 0,4. Kemudian year on year inflation juga turun dari sekitar 4,2 menjadi 3,5. Jadi tampaknya heating di ekonomi Amerika tidak setinggi yang diharapkan oleh market. Jadi kemungkinan interest rate untuk tertunda atau bahkan tidak terjadi kenaikan itu mungkin terjadi," ujarnya.

Baca Juga: DBS Proyeksikan IHSG Berpeluang Sentuh 8.000 Akhir Tahun

Baca Juga: DBS Treasures Melejit 289%, Investor Tajir Borong Emas Saat IHSG Terpuruk

Jika The Fed mempertahankan suku bunga dan BI kembali menaikkan suku bunga acuan, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak lebih stabil.

"Dan itulah yang menyebabkan kalau misalnya US Fed sampai trend rate-nya tetap flat, maka ada kemungkinan dolar-rupiah akan bisa kembali ke level Rp17.700-Rp17.600-an," kata Djoko.

Sekedar informasi, nilai tukar rupiah hari ini menjadi Rp18.070 per dolar AS atau bergerak menguat 21 poin.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Dwi Aditya Putra