Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

JD Vance Tuduh Pejabat Israel Manipulasi Opini Publik AS demi Gagalkan Kesepakatan Iran

JD Vance Tuduh Pejabat Israel Manipulasi Opini Publik AS demi Gagalkan Kesepakatan Iran Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance menuding ada sejumlah anggota pemerintahan Israel yang berupaya memengaruhi opini publik Amerika Serikat demi menggagalkan kesepakatan awal antara Washington dan Iran. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar kampanye militer terhadap Teheran terus berlanjut.

Pernyataan itu disampaikan Vance dalam podcast bersama Joe Rogan yang dipublikasikan pada Rabu (15/7/2026). Ucapan tersebut sekaligus mempertegas kritik Vance terhadap sebagian pihak di pemerintahan Israel terkait perang dengan Iran.

Vance mengaku tidak meragukan adanya upaya dari sejumlah pejabat Israel untuk mengubah pandangan publik Amerika terhadap kesepakatan yang sempat dicapai kedua negara pada Juni lalu.

"Saya mengetahui tanpa keraguan sedikit pun bahwa ada orang-orang di dalam pemerintahan Israel yang berupaya, katakanlah, benar-benar mengalihkan perhatian kita dari kebijakan tersebut karena mereka ingin melanjutkan kampanye militer," kata Vance.

Menurut Vance, beberapa pihak di pemerintahan Israel bahkan melakukan operasi pengaruh untuk memengaruhi masyarakat Amerika agar mendukung kelanjutan perang.

"Ada orang-orang di dalam sistem mereka yang sedang memanipulasi dan berupaya mengubah opini publik Amerika agar perang terus berlangsung tanpa batas waktu," ujarnya.

Meski demikian, Vance mengakui bahwa berbagai negara, baik sekutu maupun lawan, memang lazim berusaha memengaruhi kebijakan Amerika Serikat. Namun, ia menilai upaya tersebut menjadi persoalan ketika benar-benar memengaruhi proses pengambilan keputusan di Washington.

"Yang membuat saya keberatan adalah ketika operasi atau kampanye pengaruh tersebut benar-benar memengaruhi penilaian politik Amerika," tegasnya.

Baca Juga: Ancaman Baru Iran ke AS, Houthi Disebut Siap Blokade Laut Merah

Kesepakatan awal antara AS dan Iran sendiri sempat menuai kritik dari sejumlah pihak di Amerika Serikat maupun Israel. Mereka menilai kesepakatan itu belum cukup untuk menghentikan program nuklir Iran dan dianggap membatasi ruang gerak Israel dalam menghadapi kelompok Hizbullah di Lebanon.

Sebelumnya, Vance juga pernah mengecam kritik dari sebagian pihak di Israel terhadap kesepakatan tersebut. Ia bahkan menegaskan Presiden Donald Trump merupakan sekutu utama Israel dan mengingatkan besarnya bantuan pertahanan yang selama ini diberikan Amerika Serikat.

Saat ditanya apakah Amerika Serikat tetap akan terlibat dalam konflik melawan Iran tanpa adanya pengaruh dari Israel, Vance menjawab bahwa Presiden Trump tetap memiliki sikap tegas terkait program nuklir Teheran.

"Saya pikir Presiden, terlepas dari pengaruh apa pun dari Israel, sangat meyakini bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir," ujar Vance.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama