Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Tertekan Gejolak Timur Tengah, Insentif Baru BI Diproyeksi Tahan Pelemahan

Rupiah Tertekan Gejolak Timur Tengah, Insentif Baru BI Diproyeksi Tahan Pelemahan Kredit Foto: Antara/Rivan Awal Lingga
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada awal perdagangan Kamis (23/7/2026). Meski demikian, pelemahan diperkirakan masih terbatas karena didukung oleh kebijakan terbaru Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.921 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 4 poin atau 0,02% dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari kenaikan harga minyak dunia yang dipicu memanasnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah harga minyak yang kembali naik oleh tensi geopolitik di Timur Tengah," kata Lukman kepada Warta Ekonomi, Jakarta, Kamis (23/7/2026).

Namun, ia menilai pelemahan rupiah tidak akan begitu dalam, karena sentimen domestik menunjukkan perbaikan dalam beberapa waktu terakhir.

Salah satu faktor pendukung datang dari hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Juli 2026 yang memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75%.

Selain menahan suku bunga, BI juga mengumumkan sejumlah insentif baru untuk memperkuat stabilitas pasar keuangan dan mendukung nilai tukar rupiah. 

Bank sentral menaikkan insentif pengurangan premi untuk investasi portofolio asing melalui peningkatan insentif Swap Jual Lindung Nilai (Swap Beli Lindung Nilai kepada BI) dari 10% menjadi 12,5%.

BI juga memperluas insentif untuk Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Jual Lindung Nilai sebesar 15%.

Di sisi lain, bank sentral memberikan insentif untuk memperkuat penggunaan Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra sebagai upaya diversifikasi transaksi valuta asing. 

Baca Juga: Rupiah Loyo ke Rp17.920 per USD Setelah BI Tahan Suku Bunga

Baca Juga: BI Diproyeksi Tahan Suku Bunga di 5,75%, Fokus Jaga Stabilitas Rupiah

Kebijakan tersebut dilakukan melalui penambahan premi Swap Beli Lindung Nilai (Swap Jual Lindung Nilai kepada BI) sebesar 10% serta pengurangan premi DNDF Jual Lindung Nilai sebesar 10%.

"Dari RDG BI kemarin, walau mempertahankan tingkat suku bunga, namun langkah BI memberi insentif baru yang diantaranya mengurangi biaya transaksi lindung nilai valuta asing dengan bank sentral dan mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS bisa mendukung rupiah," jelasnya.

Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra