Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Hampir Rp100 T, Penjualan Nokia Justru Terus Tumbuh Setelah Tak Lagi Produksi HP

Hampir Rp100 T, Penjualan Nokia Justru Terus Tumbuh Setelah Tak Lagi Produksi HP Kredit Foto: Reuters/Sergio Perez
Warta Ekonomi, Jakarta -

Setelah resmi berhenti memproduksi dan menjual smartphone bermerek Nokia pada awal 2025, perusahaan asal Finlandia tersebut justru mencatatkan kinerja keuangan yang melampaui ekspektasi pasar berkat lonjakan permintaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan (cloud).

Transformasi Nokia dari produsen ponsel menjadi penyedia infrastruktur jaringan kini mulai membuahkan hasil. Permintaan perangkat jaringan untuk pusat data AI dari perusahaan-perusahaan teknologi global menjadi motor utama pertumbuhan bisnis perusahaan.

Pada kuartal II 2026, Nokia membukukan pertumbuhan penjualan tahunan sebesar 8 persen, meningkat signifikan dibandingkan pertumbuhan 2 persen pada kuartal pertama tahun ini. Penjualan bersih perusahaan mencapai 4,82 miliar euro atau sekitar Rp98,72 triliun (1 Euro = Rp20.482), melampaui estimasi pasar.

Kinerja profitabilitas juga melampaui perkiraan analis. Berdasarkan laporan keuangan resmi yang dirilis Kamis, laba operasi Nokia naik 18 persen menjadi 434 juta euro atau sekitar Rp7,9 triliun. Capaian tersebut berada di atas konsensus analis yang memperkirakan laba operasi sebesar 382 juta euro. Sementara laba per saham (earning per share/EPS) tercatat sebesar 0,06 dolar AS, sesuai ekspektasi pasar.

Lonjakan kinerja tersebut didorong oleh tingginya permintaan perangkat jaringan IP, jaringan optik, dan solusi konektivitas untuk pusat data AI. Nokia juga mencatat pertumbuhan penjualan yang berkaitan dengan AI sebesar 49 persen.

Bahkan, pendapatan dari kelompok pelanggan AI dan cloud melonjak hingga dua kali lipat menjadi 446 juta euro pada kuartal II 2026. Pertumbuhan itu didorong oleh meningkatnya kebutuhan kabel fiber optik khusus yang digunakan untuk menghubungkan pusat-pusat data AI milik perusahaan teknologi berskala global.

Kepercayaan pelanggan terhadap kemampuan Nokia juga tercermin dari nilai pesanan baru yang mencapai 2,8 miliar euro. Banyak pelanggan memilih melakukan kontrak jangka panjang untuk mengamankan pasokan di tengah tingginya permintaan infrastruktur AI secara global.

Selain itu, Nokia sebelumnya juga mengungkapkan telah mengantongi pesanan dari segmen pelanggan AI dan cloud senilai 1 miliar euro, yang menjadi penyeimbang terhadap perlambatan bisnis telekomunikasi konvensional.

Meski mencatatkan pertumbuhan yang kuat, Nokia masih menghadapi sejumlah tantangan. Divisi Jaringan Tetap mengalami penurunan pendapatan sebesar 13 persen akibat operator telekomunikasi menunda investasi infrastruktur.

Di sisi lain, perusahaan juga menghadapi kenaikan harga chip memori yang dipicu tingginya permintaan dari industri teknologi global. Kondisi tersebut turut dialami pesaing utamanya, Ericsson, sehingga menekan biaya produksi perangkat jaringan.

Dalam laporan operasionalnya, Nokia masih mencatatkan kerugian operasional sebesar 50 juta dolar AS pada kuartal II. Kerugian tersebut berasal dari beban restrukturisasi satu kali yang merupakan bagian dari transformasi bisnis perusahaan.

Manajemen Nokia menyatakan prospek operasional sepanjang 2026 tidak berubah. Perusahaan tetap menargetkan kenaikan tipis laba operasional tersesuaikan hingga akhir tahun, sembari meningkatkan kapasitas produksi di Amerika Serikat dan mempercepat program restrukturisasi.

Transformasi bisnis yang dilakukan sejak keluar dari pasar smartphone dinilai mulai memperkuat posisi Nokia dalam rantai pasok teknologi global. Keberhasilan mengamankan berbagai kontrak pembangunan infrastruktur pusat data AI memberikan fondasi pendapatan jangka panjang di tengah pesatnya perkembangan industri kecerdasan buatan.

Meski saham Nokia sempat mengalami tekanan setelah turun ke kisaran 9 euro dari sekitar 11 euro pada awal bulan, harga saham perusahaan ditutup di level 10,30 dolar AS pada perdagangan 22 Juli 2026. Investor masih mencermati apakah pertumbuhan bisnis AI dan efisiensi operasional mampu sepenuhnya mengimbangi perlambatan pasar telekomunikasi tradisional.

Dengan bisnis yang kini bertumpu pada infrastruktur digital, Nokia diproyeksikan terus meningkatkan profitabilitas. Laba perusahaan bahkan diperkirakan tumbuh hingga 25 persen pada tahun depan, dengan estimasi kenaikan laba per saham dari 0,40 dolar AS menjadi 0,50 dolar AS.

Transformasi yang semula dipandang berisiko kini mulai menunjukkan bahwa Nokia mampu menemukan sumber pertumbuhan baru, bukan lagi dari penjualan telepon genggam, melainkan dari fondasi jaringan yang menopang era AI dan cloud.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: