Kredit Foto: Uswah Hasanah
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (24/7/2026), seiring berlanjutnya kenaikan harga minyak dunia. IHSG diproyeksikan bergerak di kisaran support 6.200, pivot 6.300, dan resistance 6.380.
Dalam risetnya, Phintraco Sekuritas menyebut IHSG pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah 0,3% ke level 6.315,31.
Dari sisi teknikal, indikator Stochastic RSI telah membentuk pola death cross di area overbought, yang mengindikasikan potensi pelemahan. Meski demikian, histogram MACD masih berada di zona positif, walaupun mulai menunjukkan penyempitan.
Menurut Phintraco, kenaikan harga minyak mentah masih menjadi sentimen negatif bagi pasar saham.
"Jika IHSG turun menembus level moving average (MA) 5 di sekitar 6.280, indeks berpeluang melanjutkan koreksi menuju area 6.200-6.250," tuis riset dari Phintraco Sekuritas.
Di sisi makroekonomi, jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) di Indonesia tercatat tumbuh 8,7% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp10.432,8 triliun pada Juni 2026. Meski masih meningkat, laju pertumbuhannya melambat dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 10,8%.
Pertumbuhan likuiditas tersebut didorong oleh kenaikan uang beredar sempit (M1) sebesar 9,8% dan uang kuasi sebesar 6,9%. Di saat yang sama, pertumbuhan kredit justru meningkat menjadi 12,67% (yoy), menunjukkan aktivitas penyaluran kredit masih cukup kuat.
Phintraco juga menyoroti laporan S&P yang menyebut pelemahan nilai tukar dapat memberikan dampak berbeda bagi korporasi di Asia, termasuk Indonesia. Perusahaan berorientasi ekspor berpotensi memperoleh keuntungan dari depresiasi mata uang, sementara emiten yang bergantung pada impor diperkirakan menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya.
S&P mengelompokkan 69 emiten korporasi dan infrastruktur di Indonesia, India, dan Korea berdasarkan tingkat eksposurnya terhadap risiko nilai tukar.
Baca Juga: BEI Perpanjang Suspensi Saham MAGP, Sudah Tak Diperdagangkan Selama 48 Bulan
Baca Juga: Saham Grup Barito Terbang, Prajogo Pangestu Rebut Lagi Takhta Orang Terkaya Indonesia
Baca Juga: Total Aset 10 Emiten Teratas dalam Daftar Saham HSC BEI, Siapa yang Paling Jumbo?
Beberapa perusahaan dinilai lebih rentan terhadap pelemahan mata uang karena adanya ketidaksesuaian antara pendapatan operasional dan kewajiban pembiayaan dalam valuta asing.
"Secara historis, depresiasi mata uang yang tajam cenderung mengurangi kemampuan emiten dengan peringkat spekulatif dalam memenuhi kewajiban keuangannya," ungkap Phintraco Sekuritas.
Untuk perdagangan hari ini, Phintraco Sekuritas merekomendasikan lima saham yang layak dicermati investor, yakni PT Sinar Eka Selaras Tbk (EMAS), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Annisa Nurfitri