Kredit Foto: Antara/ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/rwa.
Indonesia semakin mengukuhkan posisinya sebagai pemain utama dalam industri pengolahan kakao di kawasan Asia. Saat sejumlah negara masih menghadapi tantangan pasokan dan fluktuasi harga komoditas, Indonesia justru kini menguasai sekitar 49 persen dari total volume pengolahan kakao di Asia.
Dominasi tersebut ditopang oleh peningkatan kinerja industri pengolahan kakao nasional sepanjang triwulan II 2026. Berdasarkan Grind Statistics Q2 2026, volume pengolahan (grinding) kakao Indonesia mencapai 110.410 ton, meningkat 30,1 persen dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 84.844 ton.
Sejalan dengan itu, produksi kakao olahan nasional juga tumbuh 8,2 persen dibandingkan periode Januari-Maret 2026. Kinerja tersebut menunjukkan industri hilir kakao Indonesia masih mampu berkembang di tengah gejolak pasar global yang dipengaruhi volatilitas harga, perubahan pola permintaan, hingga tuntutan penerapan prinsip keberlanjutan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pemerintah terus mendorong penguatan industri pengolahan kakao sebagai bagian dari strategi hilirisasi nasional. Menurutnya, Indonesia tidak hanya ingin dikenal sebagai penghasil biji kakao, tetapi juga menjadi pusat pengolahan kakao berkelas dunia.
"Kemenperin terus mempercepat transformasi industri kakao melalui penguatan hilirisasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan kemitraan antara petani dan industri, penerapan standar mutu, serta akselerasi implementasi prinsip keberlanjutan," ujar Agus dalam keterangannya, Jumat (24/7/2026).
Besarnya kapasitas industri membuat Indonesia kini menjadi salah satu mata rantai penting dalam pasokan kakao olahan dunia. Kontribusi hampir separuh kapasitas pengolahan kakao di Asia dinilai memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis bagi industri makanan dan minuman global yang bergantung pada produk kakao olahan.
Baca Juga: Belarus Minta Ekspor Kakao RI 120 Ribu Ton Per Tahun, Mentan Amran Siap Genjot Produksi
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menambahkan, peningkatan daya saing industri juga akan menjadi fokus dalam penyelenggaraan Indonesia International Cocoa Conference (IICC) 2026.
Mengusung tema "The Rise of Indonesian Cocoa: The Pearl of Asia for the World", konferensi tersebut diharapkan menjadi wadah memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan petani untuk meningkatkan produktivitas, memperluas akses pasar, sekaligus mempercepat penerapan praktik produksi yang berkelanjutan.
Melalui penguatan sektor hilir, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas kakao di dalam negeri. Strategi tersebut juga dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah sekaligus meningkatkan daya saing produk kakao Indonesia di pasar internasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman