Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sudaryono Sebut Ada Mitra MBG Rela Gadaikan Rumah Demi Bangun Dapur SPPG

Sudaryono Sebut Ada Mitra MBG Rela Gadaikan Rumah Demi Bangun Dapur SPPG Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menggodok skema penyelamatan dan restrukturisasi finansial bagi para mitra pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telanjur menanamkan investasi besar. Langkah taktis ini diambil menyusul adanya keluhan dari para pengusaha dan mitra di akar rumput yang sempat mendapat angin segar dan komitmen kerja sama dari pimpinan BGN periode sebelumnya.

Kepala BGN, Sudaryono, mengatakan meski tidak menjanjikan pundi-pundi margin keuntungan fantastis seperti narasi awal yang pernah ditawarkan di era kepemimpinan sebelumnya, BGN menjamin adanya perlindungan modal agar para mitra UMKM dan pengusaha lokal tersebut tidak menderita kerugian (cut loss).

Walau demikian, Sudaryono menyoroti realitas pahit di lapangan di mana banyak mitra yang mempertaruhkan aset pribadinya.

"Kami pastikan akan mencari skema yang adil supaya orang yang sudah bersusah payah, ada yang mohon maaf, menggadaikan rumahnya, ada yang nggak berani pulang karena rumahnya itu didatangin orang terus ditagih piutang dan lain-lain, itu kemudian orang-orang ini mendapatkan keadilan setidaknya tidak dirugikan," papar Sudaryono dalam jumpa pers di kantor BGN, Senin (27/7/2026).

Dalam paparannya, Sudaryono mengungkapkan bahwa ia telah duduk bersama perwakilan Asosiasi Pangan Gizi (APGI) 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) untuk mengurai benang kusut investasi dapur umum ini.

"Betul kemarin saya telah menerima beberapa asosiasi yang oleh pimpinan yang lama itu kemudian ada semacam komitmen, ya artinya dia bantu dia bangun dapur kemudian nanti dengan skema yang begini dan begitu," kata Sudaryono.

Dari kacamata bisnis dan kemitraan, ia menegaskan bahwa para vendor dan mitra MBG ini tidak seharusnya dilabeli semata-mata sebagai pihak pemburu rente atau keuntungan semata. Mayoritas dari mereka adalah entitas bisnis riil yang rela membakar modal (capital expenditure) pribadi untuk membangun infrastruktur dapur demi menyukseskan program strategis pemerintah.

"Jadi mitra ini adalah orang yang mengeluarkan biaya, membangun membangun pakai uangnya, membangun dapur. Saya sekali lagi saya tidak punya dapur, jadi saya tidak ada kepentingan apa pun. Jadi bagi mitra yang banyak dan kebanyakan mitra itu baik, maka ini harus kita apresiasi."

Kendati memberikan apresiasi tinggi kepada mitra yang beriktikad baik, BGN tidak menutup mata terhadap adanya segelintir oknum mitra yang memiliki catatan bermasalah.

Untuk memastikan tata kelola dan kepatuhan (compliance) berjalan baik, BGN menggandeng aparat penegak hukum untuk melakukan audit investigatif terhadap puluhan ribu fasilitas yang ada.

"Jadi dari 27.400 sekian, 27.469 dapur yang sekarang ini aktif beroperasi itu kami sisir semua. Bahkan Kejaksaan Agung juga menyisir semua, mana mitra-mitra mana yayasan-yayasan yang kemudian tidak benar ini," tegasnya.

Terkait upaya perlindungan (bailout atau skema ganti rugi) bagi mitra berintegritas yang telanjur jorjoran menggelontorkan dana pribadi, BGN berkomitmen menghadirkan solusi yang berkeadilan.

Baca Juga: BGN Usut Dugaan Keterlibatan Pegawainya Ngentit Duit hingga Judi Online

Baca Juga: Kepala BGN 'Haramkan' Komoditas Subsidi untuk Program MBG

Di akhir penjelasannya, Sudaryono mengimbau para pelaku usaha dan mitra MBG untuk memberikan waktu bagi instansinya dalam merumuskan mekanisme settlement atau penyelesaian finansial yang komprehensif tanpa menabrak regulasi.

"Nah skemanya bagaimana saya minta untuk paling tidak saya mohon waktu kepada ini juga didengar secara umum meminta waktu kepada seluruh mitra yang selama ini mungkin mencari keadilan selama berbulan-bulan ini untuk sedikit bersabar" pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Dwi Aditya Putra