Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Pelemahan daya beli masyarakat dan ketatnya persaingan di industri fesyen anak mendorong pelaku usaha mencari strategi baru agar tetap bertahan. Little Fresco memilih menggarap pasar yang lebih spesifik (niche market) dengan fokus pada aksesoris anak, sembari mengandalkan penjualan melalui e-commerce sebagai mesin utama pertumbuhan bisnis.
Owner Little Fresco Vincent Phandinata mengatakan perusahaan sengaja menghindari persaingan langsung dengan produsen besar yang bermain di segmen pakaian anak berharga murah. Sebagai gantinya, Little Fresco fokus mengembangkan produk yang masih minim pemain, seperti dasi, bow tie, suspender, hingga pocket square untuk anak.
"Justru itu kita nyarinya, mengingat kita kecil ya. Maksudnya nyari-nyari market yang celahnya ada, yang miss banget. Dan kebetulan kita secara produksi cukup bisa mumpuni. Dari market niche itu memang enggak besar, cuma stabil. Ada saja market-nya," ujar Vincent saat ditemui di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, strategi tersebut menjadi pembeda di tengah pasar fesyen anak yang semakin kompetitif. Salah satu produk unggulan perusahaan adalah dasi anak yang dibuat dalam berbagai ukuran sesuai kelompok usia, mulai dari balita hingga anak yang lebih besar.
"Kalau anak umur tiga tahun tentu beda ukurannya dengan umur enam atau delapan tahun. Kita bikin size khusus supaya saat dipakai memang fit," katanya.
Selain aksesoris, Little Fresco juga mengembangkan kaus bertema yang mengikuti berbagai momen musiman, seperti Hari Kemerdekaan, Natal, dan Imlek. Meski jumlah kategori produk tidak banyak, perusahaan terus memperbarui desain agar tetap relevan dengan kebutuhan konsumen.
"Secara barang mungkin enggak terlalu variatif, tapi secara jenis desainnya banyak banget," ujarnya.
Vincent mengakui strategi bermain di pasar niche dipilih karena sulit bersaing dengan produsen berskala besar yang memiliki kapasitas produksi lebih tinggi dan mampu menawarkan harga jauh lebih murah.
"Kalau kita mau main baju segala macam, harga jauh banget sama yang pabrik gede. Barang-barang kita enggak murah, enggak mahal juga sih. Ada sedikit lebih mahal," katanya.
Di sisi distribusi, Little Fresco kini mengandalkan kanal digital sebagai sumber utama penjualan. Sekitar 95% transaksi perusahaan berasal dari platform e-commerce, dengan Shopee menjadi kontributor terbesar.
Vincent mengatakan perusahaan sebelumnya sempat mengoperasikan beberapa toko fisik di pusat perbelanjaan. Namun, tingginya biaya operasional membuat perusahaan memilih memperkuat penjualan daring, terutama karena karakter pasar yang dibidik tergolong spesifik.
"Mungkin 95% di online. Dan mayoritas Shopee. Karena offline lebih besar modal untuk sewa-sewanya. Market-nya juga niche banget. Kalau di mal orang belinya impulsif, sedangkan produk seperti ini biasanya dicari saat memang dibutuhkan," jelasnya.
Pemanfaatan platform digital juga membuka peluang ekspansi ke pasar internasional. Melalui fitur ekspor di Shopee, produk Little Fresco telah dikirim ke sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Singapura dan Malaysia.
Baca Juga: Daya Beli Melemah, Rumah Rp300 Juta Masih Jadi Favorit Pembeli
Baca Juga: Daya Beli Tergerus, Kemenperin Singgung Dampak Kenaikan BBM Non-Subsidi
Meski demikian, tantangan bisnis masih membayangi. Vincent mengungkapkan penjualan mengalami penurunan dibandingkan beberapa tahun lalu seiring melemahnya daya beli masyarakat. Di sisi lain, perusahaan menghadapi kenaikan biaya produksi akibat meningkatnya harga bahan baku dan kemasan.
"Tapi soal kenaikan harga, itu lumayan berasa. Bukan dari daya beli doang, dari packaging segala macam, apalagi plastik itu luar biasa," ujarnya.
Untuk menjaga daya saing, Little Fresco belum menaikkan harga jual secara agresif. Perusahaan memilih menyerap sebagian kenaikan biaya melalui efisiensi, termasuk memangkas anggaran pemasaran.
"Kita cuma kurang-kurangin budget di marketing, di iklan," kata Vincent.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: