Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Strategi Politik: Prabowo ‘Redupkan’ Dedi Mulyadi

Strategi Politik: Prabowo ‘Redupkan’ Dedi Mulyadi Kredit Foto: BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Jurnalis senior Hersubeno Arief menilai Presiden Prabowo Subianto bisa ‘meredupkan’ popularitas Gubernur Jawa Barat sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Dedi Mulyadi, tanpa harus menyerangnya secara langsung.

Hersu menganalogikan Prabowo sebagai pendekar pencak silat yang harus menyusun strategi dengan memanfaatkan tenaga lawan agar tidak justru menjatuhkan dirinya sendiri.

"Saya kira ini Pak Prabowo pasti harusnya paham karena dia adalah pendekar pencak silat. Karena dalam filosofi bela diri, jangan sampai itu ada tenaga kita itu dipinjam lawan untuk menjatuhkan diri kita sendiri, jadi meminjam tenaga lawan," ujarnya dalam kanal YouTube Hersubeno Point, dikutip Jumat (31/7).

Baca Juga: Ngonten Tiap Hari, KDM Libas Prabowo di Survei SMRC

Jika Gerindra salah menangani Dedi Mulyadi, menurut Hersu, Dedi bisa memainkan peran sebagai korban atau playing victim. Hal itu justru akan membuat popularitasnya meningkat.

"Nah misalnya kemudian Gerindra itu mengambil langkah-langkah yang keras terhadap Dedi Mulyadi secara frontal, dan atau kemudian ini banyak yang menyinyiri dari kalangan internal Partai Gerindra terhadap Dedi Mulyadi. Kalau ini yang terjadi, justru malah akan memberikan tenaga dan panggung baru bagi Dedi Mulyadi untuk memainkan narasi politik terzalimi," jelasnya.

Karena itu, Hersu menilai langkah internal Gerindra harus dilakukan dengan hati-hati. 

"Strategi yang pertama saya kira mungkin yang paling tepat, karena dia kader, dia harus tetap dirangkul tapi sambil dikunci gitu ya," katanya.

Ia menyebut strategi itu mirip dengan istilah golden handcuffs. DPP Pusat bisa memberikan tugas resmi yang spesifik dan menyita waktu serta tenaga Dedi di tingkat regional. Aktivitas seperti menemui warga, menangani korban bencana, menertibkan bangunan liar, hingga memantau pembangunan jalan bisa terus dilakukan, tetapi fokusnya harus di Jawa Barat.

"Misalnya kamu enggak boleh pergi dari Jawa Barat karena ini ada program strategis nasional di Jawa Barat, fokusnya di situ. Ya ini menutup ruang gerak safari politik lintas provinsi tanpa terkesan dilarang," tandasnya.

Sebagai informasi, dalam survei elektabilitas calon presiden terbaru yang dirilis oleh lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indikator Politik Indonesia pada akhir Juli 2026, Dedi Mulyadi unggul atas Prabowo.

Baca Juga: Prabowo Diperingatkan, Dedi Mulyadi Bukan Lawan Sembarangan

Dalam simulasi semi terbuka SMRC, Dedi menempati peringkat pertama dengan elektabilitas 35%, sedangkan Prabowo berada di posisi kedua dengan 14,5%. Dalam simulasi head to head, keunggulan Dedi melebar hingga 59% berbanding 28,3% untuk Prabowo. 

Indikator Politik Indonesia juga mencatat Dedi memimpin dalam simulasi elektabilitas. Meski tingkat pengenalan publik terhadap Prabowo lebih tinggi (98,8% vs 88,2%), tingkat kesukaan responden terhadap Dedi jauh lebih unggul, yakni 88,3% dibanding Prabowo yang hanya 68,1%.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya