Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Band Asal Inggris Ini Dicekal di Singapura karena Kibarkan Bendera Palestina dan Seruan Politik Saat Manggung

Band Asal Inggris Ini Dicekal di Singapura karena Kibarkan Bendera Palestina dan Seruan Politik Saat Manggung Kredit Foto: Instagram/massiveattackofficial
Warta Ekonomi, Jakarta -

Grup musik asal Inggris, Massive Attack, resmi dijatuhi larangan memasuki Singapura setelah mengibarkan bendera Palestina dan menyampaikan pesan politik saat konser di Star Theatre pada Rabu (29/7/2026). Otoritas Singapura menilai tindakan tersebut melanggar aturan yang berlaku di negara itu.

Di Singapura, penggunaan bendera asing maupun lambang negara tanpa izin dilarang berdasarkan regulasi yang mengatur kebebasan berbicara dan berkumpul di ruang publik. Aturan tersebut diterapkan untuk menjaga ketertiban serta keharmonisan masyarakat.

Kepolisian Singapura (SPF) dalam pernyataan resminya pada Jumat (31/7/2026) menyebut dua personel Massive Attack telah diberikan peringatan keras. Selain itu, keduanya juga dilarang kembali memasuki Singapura.

Otoritas pengawas media Singapura, Infocomm Media Development Authority (IMDA), turut memastikan tidak akan memberikan izin apabila Massive Attack mengajukan permohonan tampil di negara tersebut pada masa mendatang.

“Kepolisian memandang serius tindakan-tindakan yang berpotensi membahayakan kerukunan ras dan agama di Singapura dan mendesak masyarakat, termasuk warga asing, untuk menahan diri dari mengimpor politik asing karena hal ini dapat merusak kohesi sosial dan supremasi hukum kita," bunyi pernyataan tersebut.

"Kedamaian dan kerukunan antar ras dan agama yang berbeda di Singapura tidak boleh dianggap remeh,” lanjut pernyataan itu.

Massive Attack merupakan grup musik trip-hop yang dibentuk di Bristol, Inggris, pada 1988. Formasi saat ini terdiri dari Robert "3D" Del Naja dan Grant "Daddy G" Marshall, setelah Andrew Vowles dan Adrian Thaws keluar dari grup pada 1999 dan 2016.

Sepanjang kariernya, Massive Attack telah meraih berbagai penghargaan bergengsi. Di antaranya Brit Award untuk Penampilan Dansa Inggris Terbaik pada 1996 dan Ivor Novello Award atas Kontribusi Luar Biasa terhadap Musik Inggris pada 2009.

Band tersebut juga dikenal vokal menyuarakan dukungan terhadap Palestina dan mengkritik operasi militer Israel di Gaza. Pada April lalu, Robert Del Naja sempat ditangkap karena diduga menunjukkan dukungan terhadap organisasi terlarang saat mengikuti aksi protes di London.

Sepekan setelah itu, Massive Attack ikut menandatangani surat terbuka yang menyerukan boikot Eurovision 2026 karena keikutsertaan Israel. Seruan tersebut diinisiasi oleh No Music for Genocide dan gerakan Boycott, Divestment and Sanctions (BDS).

Baca Juga: Pep Guardiola Latih 28 Anak Palestina dari Gaza, Beri Mereka Kesempatan Lupakan Perang

Awal tahun ini, Massive Attack juga merilis lagu baru berjudul Boots on the Ground. Lagu pertama mereka dalam lebih dari satu dekade itu berkolaborasi dengan Tom Waits dan menampilkan video musik berisi visual demonstrasi anti-ICE di Amerika Serikat serta aksi Black Lives Matter.

Meski mendapat sanksi dari Singapura, Massive Attack tetap melanjutkan tur internasional mereka. Dalam waktu dekat, grup tersebut dijadwalkan tampil di Korea Selatan dan Australia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy

Tag Terkait: