Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Selalu Maju-Mundur, Trump Bikin Dunia Ragukan Prospek Kesepakatan Iran-Amerika Serikat

Selalu Maju-Mundur, Trump Bikin Dunia Ragukan Prospek Kesepakatan Iran-Amerika Serikat Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat dunia mulai meragukan prospek tercapainya kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat. Hal itu menyusul sikapnya yang berulang kali mengancam aksi militer, namun kemudian membatalkan atau menundanya.

Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi mengatakan bahwa pola tersebut disebut berpotensi mengikis kepercayaan terhadap proses negosiasi yang sedang berlangsung karena tensi konflik yang terus dinaik-turunkan oleh pola komunikasi dari Trump.

Baca Juga: Jokowi: Kalau Bisa Diselesaikan Sendiri, Selesaikan...Jangan Sedikit-sedikit ke Solo

"Saya pikir ini telah menjadi pola yang cukup melelahkan," kata Parsi kepada Al Jazeera, dikutip Senin (3/8/2026).

Ia menjelaskan bahwa setiap kali politikus itu melontarkan ancaman besar, situasinya kerap diakhiri dengan pembatalan atau penundaan serangan yang kemudian diklaim sebagai hasil dari perubahan sikap pihak lawan.

"Ancaman apokaliptik dari presiden, lalu diikuti langkah mundur yang dibungkus dengan ucapan selamat kepada diri sendiri, sambil mencoba memberi kesan bahwa ia mundur karena pihak lawan lebih dulu mengalah," ujarnya.

Namun Parsi menilai keputusan untuk menghindari perang tetap lebih baik dibandingkan memulai konflik baru atau memperluas perang yang telah berlangsung.

"Pada akhirnya tentu lebih baik dia mundur dan memberi kesempatan lagi bagi diplomasi daripada memulai perang atau meningkatkan perang yang sudah begitu membawa bencana," katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa strategi seperti itu tidak dapat dilakukan terus-menerus tanpa konsekuensi terhadap proses diplomasi.

Menurut Parsi, apabila pola ancaman dan pembatalan terus berulang, seluruh pihak akan mulai kehilangan kepercayaan terhadap keseriusan Amerika Serika.

"Ini tidak bisa berlangsung selamanya," tegasnya.

Ia menambahkan, bukan hanya kredibilitas negosiasi yang akan dipertanyakan, tetapi juga komitmen negara tersebut untuk menjalankan isi kesepakatan apabila nantinya benar-benar tercapai.

"Pada titik tertentu, seluruh kredibilitas negosiasi akan hilang. Kredibilitas untuk benar-benar mematuhi sebuah kesepakatan akan dipertanyakan, kredibilitas insentif yang ditawarkan juga dipertanyakan, dan tentu saja kredibilitas ancaman itu sendiri akan semakin menurun," ujar Parsi.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim pihaknya akan segera mencapai kesepakatan dengan Iran. Kesepakatan tersebut akan terkait dengan program nuklir negara tersebut dan Selat Hormuz.

Trump mengatakan pembicaraan yang berlangsung akan segera menyelesaikan masalah antara kedua negara. Ia menegaskan bahwa pihaknya masih membuka pintu diplomasi kepada Iran.

"Kesepakatan itu sudah di ambang pintu, berkaitan dengan Selat Hormuz. Juga, pada akhirnya, denuklirisasi Iran," kata Trump.

Namun Trump sebelum hal tersebut juga mengungkapkan bahwa operasi militer yang sempat dipertimbangkannya akan menjadi salah satu serangan terbesar dalam sejarah modern dari Amerika. Ia menegaskan bahwa hal ini demi pihaknya meraihk menenangan atas Iran.

Baca Juga: Safari Politik Kesana-sini, Jokowi Tengah Bekerja Keras Demi Gibran Kembali Dilirik Prabowo

"Ini akan menjadi serangan terbesar sejak Perang Dunia II," kata Trump.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar