Pencurian Bitcoin Rp1,6 Triliun Gegerkan Dunia Kripto, Pengguna Coldcard Terancam
Kredit Foto: Istimewa
Pengguna dompet kripto (hardware wallet) Coldcard diminta segera memindahkan aset Bitcoin mereka setelah ditemukan celah keamanan pada perangkat tersebut yang diduga telah dimanfaatkan peretas untuk mencuri aset digital senilai hampir US$89 juta atau sekitar Rp1,6 triliun (kurs Rp18.000).
Mengutip laporan Fox News hasil investigasi Galaxy Research yang menyebutkan lebih dari 1.000 Bitcoin berhasil dicuri dari 1.196 dompet digital hanya dalam waktu 41 menit pada 30 Juli 2026. Galaxy kemudian menemukan dua gelombang serangan tambahan sehingga total kerugian diperkirakan mendekati US$89 juta.
Meski demikian, Galaxy Research menegaskan estimasi tersebut masih berdasarkan analisis blockchain dan belum seluruh dompet yang terdampak dipastikan menggunakan perangkat lunak Coldcard yang rentan.
Bug Firmware Jadi Celah Peretasan
Coldcard merupakan dompet Bitcoin berbentuk perangkat fisik yang diproduksi perusahaan Kanada Coinkite. Perangkat ini dirancang untuk menyimpan aset secara offline sehingga lebih aman dibandingkan menyimpan kripto di bursa.
Namun, tim Bitcoin Engineering and Security milik Block menemukan adanya kesalahan pada firmware beberapa versi Coldcard yang menyebabkan proses pembentukan recovery seed phrase menjadi lebih mudah diprediksi.
Kondisi tersebut memungkinkan pelaku dengan kemampuan teknis tinggi merekonstruksi seed phrase dan memperoleh private key tanpa harus mengakses perangkat fisik korban.
Penelitian tersebut dipublikasikan karena para peneliti meyakini serangan masih berlangsung dan metode eksploitasinya masih terus dipelajari.
Pengguna Diminta Segera Migrasi Dompet
Coinkite telah merilis pembaruan firmware untuk mencegah masalah serupa pada dompet yang dibuat setelah pembaruan.
Namun perusahaan menegaskan bahwa memperbarui perangkat lunak saja tidak cukup melindungi pengguna yang sebelumnya telah membuat seed phrase menggunakan versi firmware yang terdampak.
Perusahaan meminta seluruh pengguna yang berpotensi terdampak segera membuat seed phrase baru menggunakan firmware terbaru, kemudian memindahkan seluruh Bitcoin ke dompet baru tersebut.
"Memperbarui firmware tidak memperbaiki seed yang dibuat menggunakan firmware yang terdampak. Seedbaru harus dibuat dan seluruh dana dipindahkan ke dompet baru," tulis Coinkite dalam peringatan keamanannya.
Coinkite juga menegaskan memindahkan seed phrase lama ke perangkat lain tidak menyelesaikan masalah karena kerentanan berada pada seed phrase, bukan pada perangkatnya.
CEO Coinkite Minta Pengguna Bertindak Cepat
CEO Coinkite Rodolfo Novak menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas insiden tersebut.
"Saya meminta maaf dan sangat terpukul. Tim kami sangat terpukul atas kejadian ini."
Novak meminta seluruh pelanggan yang pernah membuat seed phrase menggunakan Coldcard segera memindahkan aset mereka tanpa menunggu hasil investigasi selesai.
Ia juga mengajak masyarakat membantu menyebarkan peringatan tersebut kepada pengguna Coldcard lainnya karena serangan disebut masih berlangsung.
Coinkite menyatakan masih melakukan investigasi untuk mengetahui jumlah pasti korban dan penyebab teknis insiden sebelum menerbitkan laporan lengkap.
Selain itu, perusahaan menyatakan siap membantu pelanggan yang ingin mengajukan laporan kepada kepolisian maupun klaim asuransi serta bekerja sama dengan penyelidik blockchain dan aparat penegak hukum.
Investor Mulai Pindahkan Bitcoin ke Bursa
Insiden tersebut turut mengubah perilaku investor Bitcoin.
Data CryptoQuant menunjukkan setoran Bitcoin ke bursa kripto untuk transaksi di bawah 10 BTC melonjak menjadi 7.300 BTC pada 31 Juli 2026, tertinggi sejak Februari 2026.
Jumlah alamat aktif harian juga meningkat hampir mencapai satu juta alamat, dengan sebagian besar aktivitas berasal dari pemindahan Bitcoin menuju bursa kripto.
Fenomena ini berbanding terbalik dengan krisis FTX pada 2022. Saat itu investor justru menarik aset dari bursa menuju dompet pribadi karena khawatir terhadap risiko kebangkrutan bursa. Kini, sebagian investor memilih menyimpan sementara asetnya di bursa akibat kekhawatiran terhadap keamanan hardware wallet Coldcard.
Meski demikian, para peneliti menegaskan kerentanan ini bersifat spesifik pada sejumlah versi Coldcard dan tidak mencerminkan kegagalan sistem self-custody maupun seluruh dompet perangkat keras yang beredar di pasar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: