Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Produksi Tembaga PTFI Turun 54,2% di Semester I 2026, Ini Pemicunya!

Produksi Tembaga PTFI Turun 54,2% di Semester I 2026, Ini Pemicunya! Kredit Foto: PTFI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kinerja operasional PT Freeport Indonesia (PTFI) tertekan sepanjang enam bulan pertama 2026. Produksi dan penjualan tembaga serta emas turun tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya seiring proses pemulihan bertahap tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC).

Berdasarkan laporan semester I 2026 Freeport-McMoRan Inc. (FCX), produksi tembaga dari operasi Indonesia tercatat sebesar 300 juta pon. Angka tersebut turun 54,2% dibandingkan produksi semester I 2025 yang mencapai 655 juta pon.

Penurunan lebih dalam terjadi pada penjualan tembaga. Volume penjualan menyusut 67,9% dari 733 juta pon menjadi 235 juta pon.

Pada komoditas emas, produksi PTFI turun 53,6% dari 595.000 ons pada semester I 2025 menjadi 276.000 ons pada semester I 2026. Penjualan emas juga merosot 63,6% dari 643.000 ons menjadi 234.000 ons.

“Setelah insiden aliran lumpur eksternal pada September 2025, PTFI telah menjalankan serangkaian kegiatan untuk menangani insiden tersebut dan tetap berfokus pada peningkatan produksi secara aman dan berkelanjutan hingga mencapai kapasitas penuh," tulis manajemen Freeport-McMoRan Inc. (FCX) Dalam laporannya.

Dilaporkan juga, PTFI telah menyelesaikan kegiatan remediasi dan restorasi yang diperlukan untuk memulai kembali Blok Produksi 2 dan 3 GBC. Kegiatan peningkatan produksi awal dimulai pada akhir Maret 2026.

Freeport menyebut PTFI mencatat kemajuan selama kuartal II 2026 dan mencapai tingkat operasi yang telah direncanakan untuk periode tersebut. Peningkatan sistem penanganan material di level pengangkutan GBC juga dilaporkan berjalan sesuai jadwal.

Namun, tingkat produksi PTFI belum kembali normal. Perusahaan memperkirakan kapasitas produksi keseluruhan baru mencapai sekitar 65% pada semester II 2026.

“Tingkat produksi keseluruhan PTFI diperkirakan mencapai sekitar 65% pada semester kedua 2026, 80% pada pertengahan 2027, dan mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027," tulis dalam laporan.

Harga Tembaga dan Emas Melonjak

Meski volume produksi dan penjualan tertekan, PTFI memperoleh dukungan dari kenaikan harga jual tembaga dan emas.

Harga jual rata-rata tembaga naik 38,9% dari US$4,35 per pon pada semester I 2025 menjadi US$6,04 per pon pada semester I 2026.

Harga jual rata-rata emas meningkat 44,4% dari US$3.260 per ons menjadi US$4.709 per ons. Kenaikan harga emas turut memperbesar kredit produk sampingan yang diperhitungkan dalam biaya produksi tembaga.

Kredit produk sampingan PTFI meningkat dari US$2,98 menjadi US$5,26 per pon tembaga. Dengan memperhitungkan kredit tersebut, PTFI mencatat kredit kas bersih sebesar US$1,76 per pon tembaga, dibandingkan US$0,34 per pon pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, biaya produksi dan pengiriman sebelum penyesuaian meningkat 32,6%, dari US$1,90 menjadi US$2,52 per pon tembaga. Biaya pengolahan juga naik dari US$0,19 menjadi US$0,52 per pon, sedangkan royalti logam meningkat dari US$0,27 menjadi US$0,46 per pon.

Perhitungan kredit kas bersih tersebut tidak memasukkan biaya fasilitas menganggur dan restorasi yang berkaitan dengan insiden September 2025. Biaya fasilitas menganggur dan restorasi mencapai US$690 juta selama semester I 2026, setara US$2,93 per pon tembaga.

“Biaya fasilitas idle dan restorasi mencapai US$284 juta atau US$1,86 per pon tembaga pada kuartal II 2026 dan US$690 juta atau US$2,93 per pon tembaga selama enam bulan pertama 2026. Biaya tersebut tidak dimasukkan dalam perhitungan kredit kas bersih per unit PTFI,'' tulis manajemen.

Pendapatan Produk Turun Jadi US$2,65 Miliar

Penurunan volume penjualan berdampak langsung terhadap kinerja keuangan operasi Indonesia.

Pendapatan produk operasi Indonesia, sebelum penyesuaian, tercatat sebesar US$2,654 miliar pada semester I 2026. Nilai tersebut turun 50,5% dibandingkan US$5,361 miliar pada semester I 2025.

Pendapatan semester I 2026 terdiri atas pendapatan tembaga sebesar US$1,420 miliar, emas US$1,100 miliar, serta perak dan produk lainnya sebesar US$134 juta.

Laba kotor operasi Indonesia merosot 74,2% dari US$2,710 miliar menjadi US$698 juta. Penurunan laba kotor lebih dalam dibandingkan pendapatan karena operasi turut menanggung peningkatan biaya nonkas dan biaya lainnya selama proses pemulihan.

Biaya nonkas dan biaya lainnya meningkat dari US$175 juta pada semester I 2025 menjadi US$722 juta pada semester I 2026. Total biaya tercatat sebesar US$1,966 miliar, dibandingkan US$2,687 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain aktivitas tambang, operasi fasilitas pengolahan hilir PTFI juga belum sepenuhnya normal. Aktivitas smelter PTFI dan PT Smelting sebelumnya disesuaikan karena terbatasnya pasokan konsentrat tembaga dari kegiatan pertambangan.

Pada akhir kuartal II 2026, PT Smelting telah beroperasi pada kapasitas penuh. Pengiriman menuju smelter PTFI diperkirakan kembali dilakukan pada semester II 2026 dengan tingkat yang lebih rendah, bergantung pada ketersediaan konsentrat.

Fasilitas pemurnian logam mulia atau Precious Metals Refinery masih beroperasi secara terbatas dan terutama mengolah lumpur anoda yang berasal dari PT Smelting.

“FCX memperkirakan perbedaan antara produksi dan penjualan PTFI akan tetap lebih berfluktuasi hingga fasilitas pengolahan hilirnya kembali mencapai tingkat operasi normal,'' tulis manajemen. 

Freeport memperkirakan perbedaan antara produksi dan penjualan PTFI masih akan berfluktuasi sampai fasilitas pengolahan hilir kembali mencapai tingkat operasi normal. Untuk sepanjang 2026, penjualan PTFI diperkirakan mencapai sekitar 700 juta pon tembaga dan 650.000 ons emas.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra