- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Prabowo Minta BRIN Kaji Biodiesel B60-B100, Nasib Campuran Solar Nabati Jadi Sorotan
Kredit Foto: Istihanah
Presiden Prabowo Subianto meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji secara menyeluruh rencana peningkatan campuran bahan nabati dalam bahan bakar minyak, mulai dari biodiesel B60 hingga B100.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan kajian tersebut diperlukan untuk melihat dampak penerapan energi berbasis nabati terhadap berbagai sektor, mulai dari teknologi, ekonomi, hingga keberlanjutan energi nasional.
"BRIN diminta untuk mengkaji apa implikasi kalau kita terapkan B60, apa implikasi kalau kita terapkan B100, kemudian bagaimana kalau E30 karena Brasil sudah sampai E100. Jadi BRIN diminta untuk mengkaji secara holistik policy terkait dengan energi ini," ujar Arif usai pertemuan dengan Presiden Prabowo bersama 150 peneliti BRIN, Kamis (6/8/2026).
Saat ini, Indonesia baru menerapkan biodiesel B50 untuk campuran solar. Artinya, komposisi bahan bakar nabati yang digunakan masih berada di bawah target yang akan dikaji pemerintah.
Sementara untuk sektor bensin, penggunaan campuran bahan nabati juga masih dalam tahap awal. Pemerintah saat ini baru menerapkan campuran etanol sebesar 5 persen ke dalam bensin.
Arif menjelaskan, kajian BRIN akan menjadi bahan pertimbangan pemerintah sebelum mengambil kebijakan lanjutan terkait mandatori energi berbasis nabati tersebut.
Menurutnya, Presiden Prabowo ingin memastikan setiap kebijakan energi memiliki perhitungan matang, termasuk dampaknya terhadap industri, masyarakat, serta ketahanan energi nasional.
Selain biodiesel dan etanol, sektor energi juga menjadi salah satu perhatian Presiden Prabowo dalam melihat berbagai inovasi yang dikembangkan BRIN.
Salah satu teknologi yang mendapat perhatian adalah Absorbed Natural Gas (ANG), yakni teknologi penyimpanan gas CNG dengan tekanan 30 bar dalam tabung khusus.
Arif menyebut teknologi tersebut berpotensi memberikan efisiensi besar apabila dikembangkan lebih luas. Bahkan, ia mengklaim penerapan ANG dapat menghemat anggaran negara hingga Rp26 triliun per tahun di sektor energi.
"Kalau ini diterapkan maka bisa menghemat Rp26 triliun per tahun terkait dengan energi ini. Nah ini riset terus kita lakukan, ini sedang kita uji coba, mohon doanya kalau ini bisa kita kembangkan lebih jauh ini akan menjadi revolusi energi di Indonesia," kata Arif.
Dalam pertemuan itu, Prabowo juga disebut tertarik dengan sejumlah inovasi lain yang dipamerkan para peneliti BRIN.
Salah satunya teknologi pengolahan sampah organik Lahsamor dan teknologi pirolisis yang mampu menghasilkan sumber energi alternatif bagi nelayan.
Baca Juga: Profesor Ahli Cuaca BRIN Sebut Super El Nino Berlangsung hingga Februari 2027
Arif mengatakan teknologi tersebut saat ini telah diterapkan di sekitar 80 titik. Selain itu, BRIN juga mengembangkan teknologi Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan kapasitas mulai dari 50 ton hingga 100 ton per hari.
Tak hanya energi, Presiden juga menyoroti inovasi ramah lingkungan lain seperti genteng berbasis limbah sawit hingga kelapa yang dikembangkan BRIN.
Selain itu, Prabowo turut mencermati pengembangan pesawat amfibi N-219 hasil kolaborasi BRIN dan PT Dirgantara Indonesia.
Menurut Arif, penggunaan pesawat amfibi memiliki keunggulan karena tidak membutuhkan pembangunan landasan pacu, sebab proses pendaratan dan lepas landas dapat dilakukan di wilayah perairan.
Melalui berbagai kajian tersebut, BRIN diharapkan dapat memberikan rekomendasi berbasis riset sebelum pemerintah menerapkan kebijakan energi baru dengan skala yang lebih besar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama