Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Hadapi Perubahan Bisnis Global, Pemimpin Future-Ready Butuh Lima Dimensi Kepemimpinan Paripurna

Hadapi Perubahan Bisnis Global, Pemimpin Future-Ready Butuh Lima Dimensi Kepemimpinan Paripurna Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Warta Ekonomi, Bandung -

Perubahan global dan ketidakpastian lingkungan bisnis menuntut organisasi menyiapkan pemimpin yang mampu beradaptasi, mengambil keputusan strategis, dan membangun organisasi secara berkelanjutan.

Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) merespons tantangan tersebut melalui konsep Kepemimpinan Paripurna yang mengembangkan lima dimensi kompetensi pemimpin.

Prof. Dr. Henndy Ginting, S.Psi., M.Si., Psikolog, dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (SBM ITB), memaparkan konsep tersebut dalam orasi ilmiah berjudul “Modifikasi Perilaku Kepemimpinan Paripurna” pada Orasi Ilmiah Guru Besar di Aula Barat ITB, Sabtu (8/8/2026).

Prof. Henndy yang juga menjabat Ketua Kelompok Keahlian People and Knowledge Management serta Ketua Senat SBM ITB menilai organisasi perlu mengubah pendekatan dalam menyiapkan pemimpin. Organisasi tidak cukup mengandalkan pengalaman masa lalu, tetapi perlu mengukur kesiapan individu menghadapi kebutuhan masa depan.

“Ini yang disebut pergeseran dari experience based ke future led development,” ujar Prof. Henndy.

Ia mendorong organisasi menggunakan asesmen dan fit and proper test untuk mengukur kompetensi serta kesiapan calon pemimpin. Pendekatan tersebut dapat membantu organisasi menentukan kebutuhan pengembangan individu secara lebih terukur.

Konsep Kepemimpinan Paripurna yang dikembangkan Prof. Henndy mencakup lima dimensi, yaitu intrapersonal, interpersonal, business and management, leading the organization, dan global perspective.

Dimensi intrapersonal membangun kemampuan memimpin diri melalui kesadaran diri, integritas, makna, dan tujuan. Dimensi interpersonal memperkuat empati, komunikasi, kolaborasi, dan kemampuan membangun relasi.

Baca Juga: Perluas Akses Pasar, SBM ITB dan Dekranasda Jabar Beri Pelatihan Marketing Berbasis AI bagi 50 UMKM

Sementara itu, dimensi business and management mengembangkan kemampuan strategi, inovasi, pengambilan keputusan, dan pengelolaan kinerja. Dimensi leading the organization mengarahkan pemimpin untuk membangun budaya, mengelola perubahan, dan memberdayakan organisasi.

Dimensi global perspective membekali pemimpin dengan kemampuan memahami keberagaman, keberlanjutan, tanggung jawab sosial, serta dinamika lingkungan global 

“Pemimpin perlu memiliki pola pikir global, memahami keberagaman, keberlanjutan, serta tanggung jawab sosial,” katanya.

Prof. Henndy menempatkan kemampuan memimpin diri sebagai fondasi kepemimpinan. Menurutnya, pemimpin perlu mengembangkan kapasitas personal sebelum mengarahkan orang lain dan organisasi.

“Seorang pemimpin bisa memimpin organisasi, tetapi bisa menginspirasi jika sudah bisa memimpin diri sendiri,” jelasnya.

Prof. Henndy mengembangkan Leadership Development Journey untuk menerjemahkan lima dimensi tersebut ke dalam proses pembelajaran. Model ini menggunakan pendekatan community-based, case-based, competency-based, global learning, benchmarking, dan project-based coaching.

Pendekatan tersebut mendorong calon pemimpin belajar melalui pengalaman, studi kasus, praktik, umpan balik, refleksi, dan pengembangan kompetensi secara berkelanjutan.

Prof. Henndy juga mengintegrasikan teori modifikasi perilaku dari Pavlov, Skinner, dan Bandura sebagai landasan psikologis. Sintesis tersebut mengarah pada pembentukan future-ready leaders yang adaptif, berintegritas, berdaya saing global, dan mampu menghasilkan dampak.

Ia menekankan exposure learning sebagai salah satu cara memperluas perspektif pemimpin. Organisasi dapat memberikan paparan isu global, benchmarking, dialog dengan pakar, dan pembelajaran lintas konteks untuk mendorong pemimpin berpikir kritis dan strategis.

“Penting bagi pemimpin untuk membangun perspektif global melalui exposure learning,” tegasnya.

Prof. Henndy menilai konsep Kepemimpinan Paripurna masih membutuhkan pengujian melalui penelitian longitudinal, multisumber, lintas organisasi, dan berbagai level kepemimpinan.

"Kita mendorong pengembangan kepemimpinan yang tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi menghubungkan kompetensi, perilaku, pembelajaran, dan kebutuhan organisasi masa depan,"pungkasnya

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Istihanah

Tag Terkait: