Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Demi Selat Hormuz, Amerika Serikat Mulai Pertimbangkan Lupakan Perjanjian Nuklir dengan Iran

Demi Selat Hormuz, Amerika Serikat Mulai Pertimbangkan Lupakan Perjanjian Nuklir dengan Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat (AS) mulai membuka kemungkinan untuk melupakan perjanjian nuklir demi mengakhiri kebuntuan dengan Iran. Fokus utama negara tersebut kini disebut bergeser pada satu kepentingan strategis: memastikan terbukanya Selat Hormuz.

The Wall Street Journal, dikutip Senin (10/8/2026), melaporkan bahwa tengah ada rencana mengejutkan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia diam-diam tengah menyiapkan langkah untuk mengklaim keberhasilannya dalam menghadapi Iran.

Baca Juga: PSI: Jokowi Punya Satu Mantra, Sudah Menempel di Banyak Kepala Warga Indonesia

Trump kini fokus membuka kembali membuka Selat Hormuz. Ia dilaporkan mulai mengemukakan kemungkinan bahwa dirinya bersedia meninggalkan perundingan tanpa memperoleh kesepakatan nuklir.

Sikap tersebut menunjukkan adanya perubahan prioritas. Sebelumnya, Trump berulang kali menegaskan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang harus memuat jaminan agar program nuklir tak kembali dihidupkan oleh Iran.

Namun, Trump dilaporkan memiliki keyakinan bahwa ancaman penggunaan kekuatan militer sudah cukup untuk membuat negara terkait berpikir ulang mengenai upaya mengembangkan kembali kemampuan nuklirnya.

Iran juga menurutnya akan kesulitan membangun kembali program nuklirnya setelah tiga fasilitas nuklir utama mereka harus dalam serangan selama perang Amerika Serikat-Iran di Juni 2025.

Amerika Serikat sendiri dilaporkan telah telah mencapai seluruh tujuan militernya terhadap Iran. Karena itu, perhatian mereka kini diarahkan pada upaya membuka blokade di Selat Hormuz.

Namun, Iran tidak serta-merta menerima skenario tersebut. Tehran justru masih mempertahankan sejumlah persyaratan sebelum bersedia membuka kembali jalur strategis tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa kesepakatan teknis mengenai jalur pelayaran tidak otomatis berarti selat akan dibuka. Pembukaan Selat Hormuz menurutnya masih bergantung pada sejumlah syarat lain, termasuk kompensasi atas kerusakan yang dialami negaranya akibat perang.

Baca Juga: Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Buru Motor Knalpot Brong: Ganti di Tempat, Baru Boleh Pulang

Tehran menginginkan persoalan kerusakan akibat perang dan pelanggaran terhadap kesepakatan sebelumnya diselesaikan terlebih dahulu sebelum akses di jalur perairan tersebut kembali normal di Timur Tengah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar