Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Soal Tingginya Jumlah Pengangguran di Jabar, Dedi Mulyadi: Kita Menyiapkan Tenaga Terampil, Bukan...

Soal Tingginya Jumlah Pengangguran di Jabar, Dedi Mulyadi: Kita Menyiapkan Tenaga Terampil, Bukan... Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi menilai persoalan pengangguran tidak cukup diselesaikan hanya dengan membuka lapangan kerja. Menurutnya, masyarakat juga harus dipersiapkan agar memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri di Jawa Barat.

Dedi menilai salah satu persoalannya adalah kesiapan sumber daya manusia. Industri membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan tertentu, sehingga masyarakat harus dibekali keterampilan agar tidak hanya menjadi pekerja pada level paling dasar.

Baca Juga: Diakui Jokowi, Popularitasnya Tak Akan Cukup Bawa Menang PSI

"Kita semuanya harus menyiapkan tenaga terampil, bukan hanya tenaga buruh, agar industri itu memiliki keberpihakan pada lingkungan, karena para pekerjanya berasal dari lingkungan," ucap Dedi Mulyadi, dikutip Rabu (12/8/2026).

Menurut Dedi, keberpihakan industri kepada masyarakat sekitar akan lebih mudah diwujudkan apabila tenaga kerja lokal memiliki kompetensi yang sesuai. Dengan demikian, ketika sebuah perusahaan berkembang di suatu daerah, masyarakat setempat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat mengisi berbagai posisi pekerjaan yang tersedia.

Untuk mencapai kondisi tersebut, ia menekankan pentingnya pendidikan. Ia meminta masyarakat bersekolah dengan baik dan mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.

"Pemerintah menyiapkan sekolah-sekolah yang beradaptasi dengan kebutuhan industri," kata Dedi.

Langkah tersebut dinilai penting karena kebutuhan industri tidak selalu berhenti pada pekerjaan yang bersifat manual. Perusahaan juga membutuhkan tenaga teknis, operator terampil, teknisi, tenaga administrasi hingga pekerja dengan kemampuan khusus sesuai bidang masing-masing.

Dedi juga melihat persoalan ketenagakerjaan harus diselesaikan dari dua sisi sekaligus. Pemerintah perlu menciptakan iklim yang membuat industri bertahan, sementara masyarakat harus meningkatkan kualitas dan keterampilannya agar mampu mengisi kesempatan kerja.

Ia mengingatkan bahwa persoalan upah juga menjadi bagian dari tantangan tersebut. Perbedaan upah antarkabupaten dan antarprovinsi dapat memengaruhi keputusan industri padat karya dalam menentukan lokasi usahanya.

Dedi oleh karenanya menilai peningkatan kesejahteraan buruh tidak semestinya hanya dilihat dari nominal gaji. Beban pengeluaran pekerja juga harus diperhatikan.

Ia mencontohkan akses pendidikan gratis bagi anak buruh, ketersediaan air bersih, biaya listrik yang terjangkau, hingga transportasi publik murah sebagai cara meningkatkan kesejahteraan tanpa seluruh bebannya dibebankan kepada perusahaan melalui kenaikan upah.

Dengan pendekatan tersebut, ia ingin mencari titik keseimbangan antara kepentingan pekerja dan keberlangsungan industri.

"Berpikirnya demi kepentingan semua, bukan kepentingan salah satu pihak," tuturnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan jumlah pengangguran di Jawa Barat. Ia bertambah sekitar 6,14 ribu orang dan mencapai 1,79 juta orang pada Mei 2026.

Baca Juga: Desakan Tak Akan Bikin Gibran Tinggalkan Prabowo: Fakta Menyakitkan bagi Warga Salah Dukung Kandidat

Angka tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah. Sebab, pembangunan infrastruktur yang semakin baik belum otomatis membuat seluruh masyarakat masuk ke pasar kerja.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar