Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kontras Upacara Versi Istana Negara dan Kabinet Bayangan, Pemimpin Upacara Memakai Kaos Oblong

Kontras Upacara Versi Istana Negara dan Kabinet Bayangan, Pemimpin Upacara Memakai Kaos Oblong Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung dalam dua suasana berbeda. Kabinet Merah Putih menggelar upacara kemerdekaan di Istana Negara, sementara Kabinet Bayangan menggelar upacara rakyat bersama masyarakat adat di kawasan Pegunungan Kendeng, Pati, Jawa Tengah.

Upacara rakyat tersebut diikuti petani Kendeng dan sejumlah masyarakat sipil. Kegiatan itu menjadi ruang refleksi atas perjalanan 81 tahun Indonesia merdeka sekaligus mengangkat kembali perjuangan warga Kendeng dalam mempertahankan kawasan pegunungan karst dari ancaman pertambangan.

Berbeda dengan upacara kenegaraan di Istana yang dihadiri para pejabat dengan suasana resmi, upacara rakyat di Kendeng berlangsung dengan nuansa yang lebih sederhana. Pemimpin upacara, Dhandy Dwi Laksono, bahkan memimpin jalannya kegiatan dengan mengenakan kaos oblong.

Dalam pidatonya, pembina upacara adalah tokoh masyarakat Kendeng, Gunretno menyoroti sejumlah kritik terhadap kondisi kebangsaan dan kebijakan pemerintah.

Ia mempertanyakan sejauh mana berbagai perubahan regulasi yang dilakukan pemerintah, termasuk melalui kebijakan omnibus law, apakah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Kritik tersebut dikaitkan dengan kondisi masyarakat di tingkat akar rumput yang masih menghadapi berbagai persoalan, termasuk perjuangan mempertahankan ruang hidup dan lingkungan.

Upacara rakyat di Pegunungan Kendeng juga menjadi simbol perjuangan warga yang selama bertahun-tahun menolak aktivitas pertambangan yang dinilai mengancam kelestarian kawasan karst dan sumber kehidupan masyarakat.

Selain menjadi peringatan kemerdekaan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi seruan perubahan. Para peserta membawa pesan bahwa kemerdekaan tidak hanya dimaknai melalui seremoni, tetapi juga harus tercermin dalam kehidupan masyarakat, termasuk perlindungan terhadap lingkungan, ruang hidup, dan hak-hak warga.

Sejumlah tokoh dan pegiat turut hadir dalam upacara rakyat tersebut, di antaranya Media Wahyudi Askar sebagai Menteri Keuangan Kabinet Bayangan, intelektual Yanusa Nugroho, Direktur CELIOS Bhima Yudhistira, Sutradara Pesta Babi dan Dirty Vote Dandhy Laksono, aktivis cum intelektual Bivitri Susanti, dan Guru Besar Ilmu Hukum Prof Zainal Arifin Mochtar.

Kontras antara upacara di Istana Negara dan upacara rakyat di Kendeng menjadi gambaran dua cara berbeda dalam memaknai peringatan kemerdekaan.

Di satu sisi, kemerdekaan dirayakan melalui seremoni kenegaraan, sementara di sisi lain masyarakat sipil menjadikannya momentum untuk menyuarakan persoalan yang masih mereka hadapi setelah 81 tahun Indonesia merdeka.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat