Dedi Mulyadi: Pengen Dihormat-hormat Ketika Kunjungan, Tapi yang Dikunjunginya Tetap Menderita...
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi melontarkan sindiran keras terhadap gaya kerja birokrasi yang menurutnya masih terlalu banyak menghabiskan anggaran untuk rapat, kunjungan kerja dan fasilitas pejabat. Ia mempertanyakan makna kegiatan tersebut jika masyarakat yang menjadi sasaran kunjungan justru tetap hidup dalam kesulitan.
Dedi menilai persoalan tersebut berkaitan dengan munculnya mental feodal dalam birokrasi. Pejabat, menurutnya, tidak seharusnya datang ke suatu wilayah dengan meminta penghormatan berlebihan apabila setelah kunjungan selesai kondisi masyarakat yang ditemui tidak berubah.
Baca Juga: 50 Buku Sehari Tak Bisa Membuat Prabowo Kalahkan Jokowi: Pidatonya Bisa Lebih Jaga Perasaan Rakyat
"Uangnya habisin di ruang rapat habis puluhan juta, makannya Rp300.000. Rakyatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Pengen dihormat-hormat ketika kunjungan, tetapi yang dikunjunginya tetap menderita. Nah, itu kan kita enggak boleh meniru feodalisme itu karena di birokrasi itu bisa tumbuh kalau tidak segera kita sadari," tegas Dedi Mulyadi, dilansir Rabu (19/8/2026).
Menurut Dedi, anggaran pemerintah harus memiliki dampak yang jelas bagi masyarakat. Ia mempertanyakan pengeluaran rutin untuk berbagai kegiatan birokrasi, termasuk pengadaan perangkat dan penataan ruang rapat yang dilakukan berulang kali.
"Berapa sih uang kita yang dibuangin untuk kegiatan rutinitas? Kunjungan kerja, pertemuan-pertemuan, rapat-rapat mempercantik ruangan dengan berbagai ornamen yang di dalamnya misalnya IT-nya seabrek-abrek tiap tahun ganti, laptopnya ganti tiap tahun, layar digitalnya diganti tiap tahun tapi enggak punya makna gitu loh," ujar Dedi.
Kritik tersebut disampaikannya dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Ia ingin birokrasi meninggalkan pola kerja yang lebih mementingkan kenyamanan pejabat dibandingkan kebutuhan masyarakat.
Adapun Dedi dalam menghadirkan sesuatu yang berbeda dalam pelaksanaan upacara HUT ke-81 RI di Jawa Barat. Dedi memberikan tempat khusus kepada masyarakat yang selama ini bekerja langsung di lapangan.
Petani, nelayan, pengemudi ojek online, petugas kebersihan hingga pekerja bangunan ditempatkan sebagai tamu VIP dalam upacara di Halaman Gedung Sate atau Pesanggrahan Pancarasa.
Sementara itu, pejabat pemerintahan serta unsur tentara dan polisi berada di bagian depan area upacara.
“Saya ucapkan terima kasih atas kehadirannya. Kami juga menyampaikan permohonan maaf pada saat ini kita berada di luar arena tenda VIP. Karena tenda hari ini diisi oleh para petani, nelayan, ojol termasuk kuli bangunan,” ujar Dedi.
Penempatan tersebut menjadi pesan simbolis bahwa masyarakat yang bekerja di lapangan juga layak mendapatkan penghormatan dalam momentum kemerdekaan.
Bagi Dedi, ukuran keberhasilan birokrasi bukan seberapa megah ruang rapat atau seberapa sering pejabat melakukan kunjungan kerja. Ukurannya adalah apakah kebijakan dan anggaran pemerintah benar-benar mampu mengurangi penderitaan masyarakat.
Baca Juga: Dibongkar Dedi Mulyadi, Prabowo Baru Membayar Rp19 Miliar dari Tunggakan Rp1,22 Triliun ke Jabar
Karena itu, ia meminta birokrasi meninggalkan budaya yang hanya mengejar penghormatan dan fasilitas. Pejabat, menurutnya, justru harus memastikan masyarakat yang mereka layani mendapatkan kehidupan yang lebih baik setelah negara hadir di tengah mereka.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: