Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Jokowi Tak Bawa Hoki ke PSI? Pengamat: Anak Didiknya Bisa Atur Hasil Pemungutan Suara

Jokowi Tak Bawa Hoki ke PSI? Pengamat: Anak Didiknya Bisa Atur Hasil Pemungutan Suara Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali menjadi sorotan setelah hasil survei menunjukkan partai tersebut masih belum mampu beranjak dari angka rendah.

Kondisi ini menarik perhatian karena PSI kini memiliki keterkaitan politik dengan mantan Presiden Joko Widodo, yang belakangan aktif melakukan safari politik ke sejumlah daerah.

Namun, aktivitas tersebut ternyata belum terlihat memberikan perubahan berarti terhadap elektabilitas PSI. Meski begitu, Pengamat kebijakan publik Gigin Praginanto melontarkan sindiran tajam mengenai kondisi. 

Gigin menyebut pendukung PSI tidak perlu terlalu khawatir dengan rendahnya elektabilitas partai. Ia pun menyinggung adanya dugaan bahwa pihak yang disebutnya sebagai anak didik Jokowi dapat mengatur hasil pemungutan suara.

Baca Juga: Karhutla Meluas! Menhut Raja Juli Ultimatum Pembakar Lahan: Perintah Presiden...

“Tenang bro. Anak didiknya bisa mengatur hasil pemungutan suara,” tulis Gigin di akun X, dikutip Senin (24/8/2026).

Pernyataan tersebut muncul di tengah angka elektabilitas PSI yang masih tertahan di level 1,9 persen. Berdasarkan survei Indonesia Political Opinion (IPO) periode 27 Juli-3 Agustus 2026, PSI bahkan berada di bawah delapan partai politik lain dalam simulasi pilihan partai untuk DPR RI.

Gerindra menempati posisi teratas dengan elektabilitas 17,5 persen. PDIP berada di posisi kedua dengan 12,8 persen, disusul Golkar 10,4 persen dan Demokrat 8,1 persen. Selanjutnya, PKB memperoleh 7,0 persen, PAN 5,1 persen, PKS 4,6 persen, serta Nasdem 4,4 persen. 

Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan elektabilitas PSI cenderung tidak mengalami perubahan selama sekitar satu setengah tahun terakhir. Bahkan, perjalanan Jokowi ke berbagai daerah yang belakangan dilakukan melalui safari politik belum menunjukkan dampak signifikan terhadap tingkat keterpilihan PSI.

"Partai Solidaritas Indonesia tidak mengalami perubahan di satu setengah tahun ini. Masih tetap di 1,9 persen, meskipun Joko Widodo melakukan roadshow ke sejumlah daerah," kata Dedi.

Menariknya, persoalan PSI ternyata bukan karena masyarakat tidak mengenal partai tersebut. Survei IPO menunjukkan sebanyak 70,2 persen responden mengaku mengetahui atau pernah melihat logo PSI.

Artinya, tingkat pengenalan terhadap PSI sebenarnya sudah cukup tinggi. Namun, popularitas tersebut belum otomatis berubah menjadi dukungan elektoral. 

Meski begitu, Dedi masih melihat peluang bagi PSI untuk memperbaiki elektabilitasnya. Ia menilai dampak safari politik Jokowi mungkin belum tercermin dalam hasil survei karena rangkaian kegiatan tersebut masih berlangsung ketika pengumpulan data dilakukan.

"Mungkin dampaknya baru terlihat setelah roadshow selesai, atau dalam satu tahun ke depan. Kalau dilakukan secara konsisten, bisa saja elektabilitasnya naik," ujar Dedi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri