Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Asosiasi Ingatkan Jangan Terjebak FOMO Motor Listrik, Ini Alasannya

Asosiasi Ingatkan Jangan Terjebak FOMO Motor Listrik, Ini Alasannya Kredit Foto: Pertamina
Warta Ekonomi, Jakarta -

Peralihan menuju kendaraan listrik terus didorong, tetapi industri sepeda motor menilai Indonesia belum bisa buru-buru meninggalkan mesin berbahan bakar minyak atau internal combustion engine (ICE).

Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) mengingatkan agar agenda elektrifikasi tidak sekadar mengikuti tren global. Menurut industri, pilihan teknologi kendaraan harus disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan kebutuhan mobilitas masyarakat Indonesia.

Sekretaris Jenderal AISI Hari Budianto bahkan mengingatkan Indonesia agar tidak terjebak dalam fenomena fear of missing out (FOMO) dalam mengejar elektrifikasi.

"Jangan sampai ada FOMO yang demikian luar biasa, tetapi tingkat manfaat yang kita dapatkan jauh lebih rendah daripada apa yang kita inginkan," kata Hari dalam keterangannya, seperti diberitakan Senin (24/8/2026).

Menurut dia, sepeda motor di Indonesia memiliki fungsi yang lebih besar daripada sekadar alat transportasi. Bagi sebagian masyarakat, khususnya kelompok menengah bawah, motor merupakan aset produktif yang digunakan untuk menunjang aktivitas ekonomi sehari-hari.

Motor digunakan untuk menjangkau tempat kerja, pasar, jasa, hingga berbagai kegiatan yang menghasilkan pendapatan. Perannya menjadi semakin penting di wilayah yang belum memiliki akses transportasi umum yang memadai.

Karena itu, faktor harga, kemudahan mendapatkan pembiayaan, biaya penggunaan, hingga nilai jual kembali menjadi pertimbangan penting ketika masyarakat memilih sepeda motor.

Nilai jual kembali yang relatif tinggi juga membuat motor memiliki fungsi sebagai aset. Ketika pemilik membutuhkan dana, kendaraan tersebut masih dapat dijual untuk mendapatkan uang dalam waktu relatif cepat.

Motor Bensin Masih Jadi Pilihan

Data penjualan menunjukkan bahwa konsumen Indonesia memang belum sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik.

Sepanjang Januari-Juli 2026, penjualan sepeda motor nasional mencapai sekitar 3,7 juta unit. Angka tersebut masih tumbuh sekitar 2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 3,69 juta unit.

Sebaliknya, penjualan motor listrik justru mengalami penurunan tajam. Pada periode yang sama, penjualan motor listrik disebut merosot dari sekitar 16.000 unit pada tahun sebelumnya menjadi hanya 365 unit.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa proses elektrifikasi kendaraan roda dua belum berjalan seragam. Di tengah berbagai program dan dorongan menuju kendaraan listrik, mayoritas konsumen masih memilih motor konvensional.

AISI sendiri menaungi lima produsen sepeda motor besar, yakni Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, dan TVS. Meski selama ini dikenal sebagai pemain kendaraan bermesin konvensional, seluruh anggota AISI juga telah memproduksi sepeda motor listrik.

Hari mengatakan kontribusi produsen konvensional terhadap pasar kendaraan listrik juga tidak bisa dikesampingkan. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, penjualan motor listrik pada tahun lalu mencapai sekitar 59.000 unit. Dari jumlah tersebut, produk listrik yang dipasarkan anggota AISI mencapai sekitar 17.000 unit.

Dengan demikian, persoalannya bukan industri sepeda motor menolak elektrifikasi. Tantangannya adalah memastikan teknologi yang digunakan benar-benar memberikan manfaat bagi konsumen.

Indonesia Masih Jadi Pasar Gemuk

Potensi pasar domestik menjadi alasan lain mengapa motor bermesin bensin belum dapat ditinggalkan dalam waktu dekat.

Indonesia merupakan salah satu pasar sepeda motor terbesar di dunia, berada di posisi ketiga setelah India dan China. Di kawasan ASEAN, Indonesia bahkan menyumbang sekitar 49% dari total penjualan sepeda motor yang mencapai 6,4 juta unit pada tahun lalu.

Besarnya pasar tersebut membuat kebutuhan terhadap kendaraan roda dua tetap tinggi. Apalagi, sepeda motor memiliki karakteristik yang sesuai dengan kondisi mobilitas masyarakat Indonesia, mulai dari harga yang relatif terjangkau hingga kemudahan digunakan di berbagai kondisi jalan.

Karena itu, AISI menilai transisi teknologi perlu dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik pasar domestik, bukan hanya mengikuti arah perkembangan industri global.

Alih-alih melihat elektrifikasi sebagai satu-satunya jalan menuju transportasi yang lebih efisien dan rendah emisi, AISI mendorong pengembangan teknologi mesin pembakaran internal sekaligus pemanfaatan bahan bakar nabati.

Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk strategi tersebut karena merupakan salah satu negara dengan sumber daya sawit dan tebu yang melimpah.

Hari mengatakan sepeda motor anggota AISI saat ini sudah dapat menggunakan bahan bakar dengan campuran ethanol hingga 10% atau E10 tanpa modifikasi. Penggunaan campuran tersebut juga berpotensi meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar.

Industri bahkan menargetkan sepeda motor dapat menggunakan campuran ethanol hingga 20% atau E20 pada 2029. Penyesuaian komponen kendaraan akan dilakukan seiring dengan peningkatan kadar ethanol tersebut.

Di sisi lain, efisiensi mesin terus dikejar. Jika sebelumnya konsumsi sepeda motor berada di kisaran 2 liter per 100 kilometer, rata-rata kendaraan saat ini disebut telah mencapai sekitar 1 liter untuk 67 kilometer.

Baca Juga: Motor Bensin Ditargetkan Makin Irit, 1 Liter BBM Bisa untuk 100 Km

Baca Juga: Insentif Motor Listrik Turun Jadi Rp3 Juta, Kemenperin Tunggu Kepastian Kuota

Baca Juga: Danantara Dorong Motor Listrik Nasional Tak Sekadar Rakit di Indonesia

Target berikutnya bahkan lebih agresif, yakni mencapai konsumsi sekitar 1 liter per 100 kilometer pada 2029-2030.

Dengan pendekatan tersebut, mesin bensin dinilai masih memiliki ruang untuk berkontribusi dalam agenda efisiensi energi tanpa harus langsung ditinggalkan.

Indonesia Jadi Rantai Industri Kendaraan Roda Dua

Kekuatan industri sepeda motor nasional juga terlihat dari aktivitas ekspor. Bahkan, pola ekspor mulai bergeser dari pengiriman kendaraan utuh atau completely built-up (CBU) menuju kendaraan dalam bentuk terurai atau completely knocked down (CKD).

Hari mengatakan sejumlah negara tujuan, termasuk Filipina, mulai memperdalam industri otomotifnya dengan merakit produk asal Indonesia dalam format CKD.

Hingga Juli 2026, ekspor CKD tercatat sekitar 4,6 juta unit. Jumlah tersebut bahkan melampaui penjualan sepeda motor di pasar domestik pada periode yang sama.

Selain CKD, ekspor komponen sepeda motor secara satuan atau part by part juga telah mendekati 100 juta unit.

Angka tersebut menunjukkan bahwa posisi Indonesia dalam industri sepeda motor bukan sekadar sebagai konsumen. Indonesia juga memiliki peran sebagai basis produksi sekaligus pemasok rantai industri kendaraan roda dua di kawasan.

Bagi AISI, kondisi tersebut membuat strategi transisi teknologi perlu dilakukan secara terukur. Elektrifikasi tetap menjadi bagian dari masa depan industri, tetapi mesin konvensional, bahan bakar nabati, dan peningkatan efisiensi juga masih memiliki ruang dalam perjalanan menuju kendaraan yang lebih hemat energi.

Dengan kata lain, persoalannya bukan memilih antara motor listrik atau motor bensin secara hitam-putih. Tantangan Indonesia adalah menentukan teknologi yang paling mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang nyata.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan