Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Wamendiktisaintek: Transisi Ekonomi Hijau Buka Lapangan Kerja Baru, SDM jadi Tantangan

Wamendiktisaintek: Transisi Ekonomi Hijau Buka Lapangan Kerja Baru, SDM jadi Tantangan Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Warta Ekonomi, Bandung -

Transisi menuju ekonomi hijau dinilai membuka peluang besar bagi terciptanya lapangan kerja baru atau green jobs.

Namun, peluang tersebut tidak akan maksimal jika Indonesia tidak segera menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri hijau.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengatakan, Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pemain utama dunia di sektor energi terbarukan.

Kekayaan sumber daya energi, termasuk panas bumi dan natural hydrogen, dinilai dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru.

"Tantangannya adalah bagaimana kita bisa menyiapkan secara baik apa yang menjadi kebutuhan kemampuan atau kebutuhan skill untuk green jobs ini," ujar Stella, Kamis (27/8/2026).

Menurutnya, Green Job memiliki karakteristik berbeda dibandingkan pekerjaan konvensional karena banyak menggunakan teknologi spesifik yang terus berkembang. Karena itu, pekerja di sektor tersebut tidak cukup hanya mengandalkan ijazah, tetapi harus memiliki kemampuan kognitif dan teknis serta mampu terus belajar dan beradaptasi.

"Green jobs membutuhkan orang-orang yang formal edukasinya itu tinggi. Jadi, ini berita baik untuk lulusan-lulusan kita dari universitas, tapi tidak bisa hanya sekadar ijazah," kata Stella.

Stella menilai perguruan tinggi tidak harus membuat kurikulum khusus untuk green jobs. Hal yang lebih penting adalah membangun research mindset atau pola pikir berbasis riset agar mahasiswa terbiasa mengajukan pertanyaan, mencari jawaban secara sistematis, serta menggunakan data dan logika dalam memecahkan persoalan.

Kemampuan tersebut dinilai penting karena jenis pekerjaan hijau akan terus berkembang seiring perubahan teknologi dan kebutuhan industri.

Persoalan lain yang perlu diatasi adalah minimnya pengetahuan mahasiswa mengenai jenis pekerjaan yang masuk dalam sektor hijau.

Stella mencontohkan bidang panas bumi dan natural hydrogen yang memiliki potensi besar di Indonesia, tetapi belum banyak dikenal mahasiswa sebagai pilihan karier.

Baca Juga: RI Mau Masuk Era Ekonomi Hijau, Tapi SDM Hijau Masih Minim

Karena itu, mahasiswa perlu mendapatkan exposure mengenai green jobs sejak masih berada di perguruan tinggi.

"Kita harus banyak-banyak exposure. Jangan nunggu setelah lulus, tapi waktu mahasiswa kita masih belajar," kata Stella.

Untuk mempersempit kesenjangan antara kebutuhan industri dan kompetensi lulusan, perguruan tinggi juga perlu memperkuat keterlibatan dunia usaha melalui kursus, workshop, hingga pembelajaran yang memperkenalkan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri hijau.

Kebutuhan tersebut juga menjadi perhatian Kementerian Ketenagakerjaan. Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor mengatakan, green jobs berpotensi menyerap tenaga kerja baru, tetapi harus diisi oleh pekerja dengan keterampilan yang sesuai.

"Green job ini banyak akan menempatkan tenaga kerja baru yang tentunya bermanfaat untuk anak-anak kita. Tapi dengan catatan, harus diisi dengan skill dan kompetensi yang memadai sesuai dengan job yang akan ditempati," ujar Afriansyah.

Menurutnya, peluang tersebut tidak hanya muncul dari sektor energi terbarukan, tetapi juga sektor lain yang berkaitan dengan ekonomi hijau, termasuk pengelolaan sampah.

Afriansyah mencontohkan, fasilitas pengolahan sampah dengan kapasitas tertentu dapat menciptakan sekitar 80 lapangan pekerjaan.

"Misalkan kita membuat pay scale industri pengolahan sampah. Di situ ada job-job. Jadi, satu pengolahan sampah dengan sekian ton itu bisa menghasilkan sekitar 80-an tenaga kerja, misalkan," kata Afriansyah.

Untuk memastikan peluang tersebut dapat diisi tenaga kerja lokal, pemerintah mendorong pelatihan, reskilling, dan upskilling, termasuk sertifikasi kompetensi.

"SDM kita perlu kita latih, perlu diadakan pelatihan, reskilling dan upskilling, sehingga mereka punya kompetensi yang memadai dan sertifikasi yang memadai soal green job ini," katanya.

Kementerian Ketenagakerjaan juga akan berkolaborasi dengan kementerian/lembaga dan pemangku kepentingan untuk memperkenalkan jenis pekerjaan yang akan tumbuh seiring transisi ekonomi hijau.

"Anak-anak kita perlu komunikasi dan informasi yang memadai serta awareness mengenai posisi-posisi yang akan disiapkan dan job-job yang disiapkan dalam energi terbarukan," kata dia.

Persiapan SDM tersebut pada akhirnya tidak dapat dilakukan oleh pemerintah atau perguruan tinggi secara sendiri-sendiri. Kebutuhan industri, kebijakan pemerintah, kemampuan akademisi, dan talenta muda perlu dipertemukan dalam satu ekosistem.

Baca Juga: MUTU Greenomics Festival 2026 Digelar 24 Agustus, Bidik Potensi Ekonomi Hijau Miliaran Dolar

Chairman Indonesia Sustainability 360 Forum 2026, Unggul Yoga Ananta, mengatakan persoalan tersebut menjadi salah satu tantangan dalam mempercepat transformasi ekonomi hijau di Indonesia.

Menurut Unggul, Indonesia sebenarnya telah memiliki berbagai modal, mulai dari kebijakan, teknologi, sumber daya alam, dunia usaha hingga talenta muda. Namun, berbagai potensi tersebut belum sepenuhnya terhubung.

"Indonesia memiliki potensi besar dari sisi kebijakan, teknologi, hingga sumber daya. Tantangannya adalah menyelaraskan langkah (alignment) antara dunia usaha, korporasi, pemerintah, dan talenta muda," ujar Unggul.

Menurutnya, kesenjangan atau missing link antar-pemangku kepentingan tersebut perlu dipersempit agar potensi ekonomi hijau dapat diterjemahkan menjadi peluang ekonomi dan pekerjaan yang nyata.

Atas dasar itu, Indonesia Sustainability 360 Forum 2026 digelar pada 26-27 Agustus 2026 dengan tema Indonesia's Green Economy Leap: Transforming the Future of Competitiveness.

Forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, investor, akademisi, dan talenta muda untuk memperkuat konektivitas sekaligus mendorong kolaborasi dalam transformasi ekonomi hijau.

"Forum ini hadir sebagai platform kolaborasi nasional untuk mencapai target keberlanjutan 2029 yang penuh tantangan," ujar Unggul. 

Selain penciptaan lapangan kerja, transformasi menuju ekonomi hijau juga diarahkan untuk membangun insentif ekonomi bagi dunia usaha agar semakin banyak mengadopsi praktik ramah lingkungan.

Pemerintah tengah memfinalisasi skema insentif dan disinsentif dalam ekosistem ekonomi karbon, termasuk mekanisme perdagangan emisi.

Dalam skema tersebut, pelaku usaha akan memiliki batas maksimum emisi (emissions cap). Perusahaan yang menghasilkan emisi melebihi batas yang ditetapkan nantinya diwajibkan membeli kredit emisi melalui mekanisme pasar.

Baca Juga: Ada Posisi Copy Writer hingga Videografer, Kemdiktisaintek Buka Magang Batch 3 2026

Skema tersebut diharapkan tidak hanya menekan emisi, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi baru yang mendorong investasi dan kegiatan usaha ramah lingkungan.

Dengan demikian, pengembangan green jobs bukan sekadar soal menciptakan jenis pekerjaan baru.

"Keberhasilannya bergantung pada kemampuan Indonesia menyiapkan talenta, mempertemukan pendidikan dengan kebutuhan industri, serta membangun ekosistem ekonomi hijau yang memberikan ruang bagi tumbuhnya pekerjaan dan industri baru,"pungkasnya

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Fajar Sulaiman