Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Pemerintah membidik investasi kecerdasan artifisial (AI) senilai US$8 miliar hingga US$12 miliar pada 2026–2030 sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pengembangan AI, ekonomi digital, dan industri semikonduktor menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Pada Semester I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45%.
Airlangga mengatakan peluang investasi AI tersebut semakin terbuka setelah Indonesia bergabung sebagai founding member World AI Collaboration Organization.
"Saya juga ingin sharing bahwa Indonesia telah bergabung sebagai founding member di World AI Collaboration Organization. Dan ini akan membuka ruang investasi AI sebesar US$8-12 miliar di tahun 2026 hingga 2030," kata Airlangga dalam Sidang Pleno ISEI XXV dan Seminar Nasional ISEI 2026, Kamis (27/8/2026).
Menurut Airlangga, kebutuhan infrastruktur digital menjadi salah satu penopang utama investasi AI. Pengembangan teknologi tersebut membutuhkan kapasitas komputasi dan pusat data (data center) untuk memproses serta mengelola data dalam skala besar.
"Itu adalah momentum bagi Indonesia karena AI ini membutuhkan data center," ujarnya.
Pemerintah juga mendorong digitalisasi ke berbagai sektor ekonomi, termasuk pertanian dan energi. Digitalisasi tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung implementasi program B50.
Di sisi lain, pemerintah menyiapkan pengembangan industri semikonduktor untuk memperkuat fondasi ekonomi digital nasional. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menggandeng perusahaan teknologi asal Inggris, ARM, dalam pengembangan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di ekosistem semikonduktor.
Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan pengembangan AI dan semikonduktor akan berjalan bersama agenda hilirisasi serta penguatan ekonomi digital.
"Dengan mengoptimalkan momentum tersebut melalui percepatan hilirisasi, pengembangan industri semikonduktor dan AI, penguatan ekonomi digital, serta perluasan akses pasar melalui kerja sama perdagangan internasional, Pemerintah optimis tentunya Indonesia bisa bersaing dengan menggunakan negara lain di sektor digital,” kata Haryo.
Penguatan sumber daya manusia menjadi faktor penting karena pengembangan AI dan semikonduktor tidak hanya membutuhkan investasi dan infrastruktur, tetapi juga penguasaan teknologi serta tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai.
Selain pengembangan industri, pemerintah memperkuat integrasi ekonomi digital di kawasan melalui implementasi Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Kerja sama tersebut diharapkan memperluas integrasi ekonomi digital regional dan membuka peluang bagi pelaku usaha Indonesia.
Sistem pembayaran digital juga terus dikembangkan untuk mendukung konektivitas transaksi lintas negara. Perluasan sistem pembayaran digital di sejumlah negara Asia dinilai dapat memperlancar aktivitas perdagangan dan transaksi ritel.
Baca Juga: Komdigi dan OJK Mau Uji AI di Sektor Keuangan, Ada 'Sandbox' Lintas Industri
Baca Juga: Alibaba Panen Cuan Sampai US$40 Miliar, AI Jadi Mesin Uang Baru!
Haryo mengatakan penguatan ekonomi digital, AI, dan semikonduktor diarahkan untuk meningkatkan daya saing Indonesia di tengah perubahan struktur ekonomi global.
"Indonesia bisa bersaing dengan menggunakan negara lain di sektor digital," kata Haryo.
Pemerintah berharap pengembangan sektor-sektor tersebut dapat menciptakan sumber pertumbuhan baru sekaligus meningkatkan kapasitas produksi nasional. Strategi tersebut ditempuh bersamaan dengan agenda hilirisasi dan pengembangan industri strategis.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri