Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Iran Susun Tuntutan untuk Buka Selat Hormuz, Ada Syarat AS Harus Akhiri Perang

Iran Susun Tuntutan untuk Buka Selat Hormuz, Ada Syarat AS Harus Akhiri Perang Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Iran tengah menyusun sejumlah tuntutan yang harus dipenuhi Amerika Serikat (AS) sebelum Selat Hormuz dibuka kembali. Salah satu syarat yang disebut Teheran adalah mengakhiri perang regional.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan daftar tuntutan tersebut sedang disiapkan. Menurut dia, permintaan itu muncul setelah mediator seperti Pakistan dan Qatar meminta Iran menyusun persyaratan pembukaan Selat Hormuz.

Rezaei belum membeberkan seluruh tuntutan yang sedang disiapkan Iran. Namun, laporan Al Jazeera menyebut Teheran juga meminta pencabutan sanksi AS terhadap pelabuhan Iran serta bantuan ekonomi dan kompensasi.

Rezaei menyampaikan hal tersebut setelah bertemu Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani di Teheran. Ia menegaskan AS harus memenuhi persyaratan Iran sebelum jalur perairan strategis itu dibuka.

"AS harus terlebih dahulu mengambil langkah-langkah nyata untuk memenuhi persyaratan Iran, setelah itu Iran akan bergerak untuk membuka kembali Selat Hormuz," kata Rezaei seperti dikutip Tasnim, Kamis (27/8/2026).

Pernyataan Rezaei sejalan dengan sikap Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Juru bicara IRGC Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi sebelumnya mengatakan Selat Hormuz tetap ditutup sampai AS menghentikan blokade dan menerima persyaratan Teheran.

Mohebbi juga mengklaim Iran masih mengendalikan jalur perairan tersebut. Ia menyebut kapal-kapal militer musuh telah dipukul mundur dari kawasan Selat Hormuz.

Di tengah ketegangan tersebut, Rezaei juga memperingatkan AS agar tidak melakukan tindakan bermusuhan terhadap Iran. Ia menilai Washington telah berulang kali mengkhianati diplomasi dan perundingan.

Rezaei bahkan mengancam akan menargetkan kepentingan militer dan ekonomi AS jika blokade terhadap Iran terus berlangsung. Ancaman tersebut disebutnya akan menjadi tindakan yang tercatat dalam sejarah.

"Jika blokade terus berlanjut, kami akan menargetkan kepentingan ekonomi AS secara menyeluruh, dan secara intensif serta dengan kekuatan penuh," tegas Rezaei seperti dilansir televisi pemerintah Iran, IRIB.

Rezaei mengklaim Iran berhasil menembus blokade maritim selama masa gencatan senjata. Menurut dia, Iran telah mengekspor sekitar 70 juta hingga 80 juta barel minyak.

Ia mengatakan penjualan minyak Iran bahkan telah kembali ke level sebelum sanksi diberlakukan. Teheran juga disebut membuka jalur ekspor baru untuk meningkatkan pengiriman minyak.

"Selain menghabiskan stok minyak yang tersimpan di kapal (floating stock), kami telah membuka jalur ekspor baru yang kini terus berkembang secara bertahap," sebut Rezaei.

Baca Juga: Trump Sebut Selat Hormuz Terbuka, AS Klaim Pegang Kendali dan Blokade Iran

Selain dengan AS, Iran juga mengklaim telah mencapai kesepakatan dengan Oman terkait koridor pelayaran di Selat Hormuz. Rute tersebut akan melewati sebagian perairan Oman dan sebagian lainnya berada di wilayah Iran.

Rezaei mengatakan kapal nantinya dapat menggunakan jalur pelayaran tengah. Namun, rute tersebut baru akan digunakan setelah AS memenuhi persyaratan yang diajukan Teheran.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy