Kredit Foto: SSMS
Emiten perkebunan kelapa sawit PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) membukukan pertumbuhan kinerja positif pada semester I 2026. Laba periode berjalan sebelum efek penyesuaian proforma mencapai Rp1 triliun, melonjak 41,53% dibandingkan Rp707,85 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim per 30 Juni 2026 yang belum diaudit, peningkatan laba SSMS ditopang pertumbuhan pendapatan usaha yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan beban pokok penjualan.
SSMS membukukan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp9,65 triliun pada semester I 2026. Realisasi tersebut meningkat 36,50% atau Rp2,58 triliun dibandingkan Rp7,07 triliun pada semester I 2025.
Pendapatan dari pihak ketiga menjadi kontributor utama dengan nilai Rp9,56 triliun, atau sekitar 99,05% dari total pendapatan. Komoditas crude palm oil (CPO) menjadi penyumbang terbesar sebesar Rp5,32 triliun, diikuti palm oleinRp2,29 triliun dan crude palm kernel oil (CPKO) Rp729,47 miliar.
Selanjutnya, pendapatan berasal dari palm stearin sebesar Rp490,41 miliar, refined, bleached and deodorized palm oil(RBDPO) Rp244,68 miliar, serta minyak goreng kemasan Rp242,97 miliar.
Dari sisi pelanggan, penjualan kepada Olam Global Agri Pte. Ltd. mencapai Rp3,89 triliun, setara sekitar 40% dari total pendapatan. Sementara penjualan kepada Eco Commodity Pte. Ltd. tercatat Rp2,45 triliun atau sekitar 25% dari total pendapatan.
Seiring kenaikan pendapatan, beban pokok penjualan SSMS meningkat 29,55% menjadi Rp5,88 triliun dari Rp4,54 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan beban tersebut masih berada di bawah pertumbuhan pendapatan.
Kondisi tersebut mendorong laba bruto SSMS naik 48,94% menjadi Rp3,78 triliun pada semester I 2026 dari Rp2,54 triliun pada semester I 2025.
Laba usaha perseroan juga meningkat 29,59% menjadi Rp1,68 triliun dari sebelumnya Rp1,30 triliun. Kinerja tersebut turut didukung keuntungan perubahan nilai wajar aset biologis sebesar Rp145,88 miliar, berbalik dari kerugian Rp122,77 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, laba sebelum pajak penghasilan badan mencapai Rp1,36 triliun, tumbuh 35,97% dibandingkan Rp998,63 miliar pada semester I 2025. Beban pajak penghasilan badan meningkat 27,25% menjadi Rp356,03 miliar dari Rp279,80 miliar.
Setelah penyesuaian proforma, laba periode berjalan SSMS tercatat Rp1 triliun, tumbuh 39,37% dari Rp718,83 miliar. Laba per saham juga meningkat menjadi Rp94,95 dari Rp72,59.
Dari sisi neraca, total aset SSMS per 30 Juni 2026 mencapai Rp15,03 triliun, meningkat 10,63% dibandingkan Rp13,58 triliun pada akhir 2025. Aset lancar tercatat Rp7,43 triliun, sedangkan aset tidak lancar mencapai Rp7,60 triliun.
Baca Juga: Laba Bersih ADRO Melonjak 76,8% Jadi US$309,37 Juta di Semester I-2026
Baca Juga: Jasa Marga (JSMR) Raup Laba Rp1,90 Triliun pada Semester I-2026
Total liabilitas meningkat 13,99% menjadi Rp12,13 triliun dari Rp10,64 triliun pada akhir 2025. Kenaikan terutama berasal dari utang bank jangka pendek yang mencapai Rp3,43 triliun.
Sementara itu, total ekuitas turun tipis 1,49% menjadi Rp2,90 triliun dari Rp2,94 triliun pada akhir 2025, seiring pembagian dividen kas.
Kas dan setara kas SSMS pada akhir Juni 2026 tercatat Rp673,55 miliar, meningkat 9,94% dibandingkan Rp612,65 miliar pada Juni 2025. Namun, posisi tersebut turun 22,94% dibandingkan saldo kas akhir 2025 sebesar Rp874,06 miliar.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: