Tugure Soroti Ancaman Soft Market, Industri Reasuransi Diminta Perketat Pricing
Kredit Foto: Tugure
PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) menyoroti pentingnya disiplin penetapan harga (pricing) di tengah kondisi soft market yang masih berlangsung di industri reasuransi. Tingginya kapasitas pasar saat ini mendorong tekanan terhadap harga sekaligus pelonggaran terms and conditions, yang berpotensi meningkatkan risiko ketika siklus pasar berbalik.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Tugure Sharing Session: Reinsurance Pricing Assessment yang digelar sebagai bagian dari program Tugure Academy di Melbourne, Australia, pada 21 Agustus 2026.
Direktur Operasional Tugure Erwin Basri mengatakan kondisi pasar retrosesi secara umum masih relatif stabil. Namun, dinamika pasar tetap perlu dicermati, terutama terkait risiko catastrophe (CAT), seperti gempa bumi, serta kondisi pasar yang masih mengalami softening.
“Melalui kegiatan ini, Bapak dan Ibu dapat berinteraksi langsung dengan kami untuk berdiskusi mengenai berbagai isu yang saat ini dihadapi industri. Di tengah risiko gempa dan kondisi softening market, tentunya kita perlu bersama-sama mencermati perkembangan yang terjadi agar dapat menjaga kondisi bisnis tetap sehat,” ujar Erwin.
Technical Analytic & Development Group Head Tugure Andriansyah menjelaskan, kondisi soft market antara lain ditandai oleh tingginya kapasitas pasar yang mendorong kompetisi dan tekanan terhadap harga. Kondisi tersebut dapat membuat perusahaan mengambil risiko lebih besar apabila penetapan harga tidak lagi mencerminkan risiko teknis.
“Hal ini menjadi pengingat bahwa pricing merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan seluruh pelaku industri. Kondisi pasar saat ini membuat tantangan tersebut menjadi semakin besar. Ketika pasar menetapkan harga di bawah technical pricing, pada dasarnya industri sedang menabung risiko yang lebih tinggi untuk masa depan,” jelas Andriansyah.
Dalam sesi tersebut, Tugure turut membahas siklus pasar reasuransi dan sejumlah kejadian dalam industri asuransi global. Salah satu studi kasus yang diangkat adalah HIH Insurance, perusahaan asuransi Australia yang runtuh pada 2001.
Kegagalan tersebut antara lain dikaitkan dengan ekspansi agresif, akuisisi perusahaan asuransi lain, kondisi soft market, under-pricing, dan under-reserving.
Kasus tersebut menjadi pembelajaran mengenai risiko pertumbuhan agresif ketika pasar berada dalam fase soft market. Tanpa disiplin pricing, kecukupan cadangan, dan governance yang kuat, pertumbuhan dapat meningkatkan kerentanan perusahaan ketika siklus pasar berubah.
Tugure juga menyoroti sejumlah pola kegagalan yang berulang di industri, seperti aggressive growth during soft market, under-reserving, weak governance, serta concentration of risk at cycle turns.
“Yang akan mampu bertahan dalam kondisi soft market adalah perusahaan yang tetap disiplin dalam pricing, memiliki governance yang kuat dalam pricing dan cadangan teknis, serta terus mempersiapkan diri menghadapi next cycle,” ujar Andriansyah.
Dalam pengelolaan risiko, Tugure menerapkan technical pricing integrity sebagai acuan utama penetapan harga. Setiap harga mengacu pada technical pricing, sedangkan penyimpangan hanya dapat dilakukan melalui persetujuan Underwriting Committee dengan justifikasi teknis yang terdokumentasi.
Penerapan IFRS 17 atau PSAK 117 juga disebut mendorong peningkatan disiplin dalam pencadangan dan pengelolaan kecukupan cadangan teknis.
Tugure juga membahas potensi perubahan arah siklus pasar reasuransi. Berdasarkan pengalaman historis yang dibahas dalam forum, perubahan tersebut umumnya dipengaruhi oleh terjadinya sejumlah catastrophic events berskala besar.
Baca Juga: Tugure Fokus Perkuat Tata Kelola demi Menjaga Pertumbuhan Jangka Panjang
Baca Juga: Premi Asuransi Kendaraan Bermotor Tumbuh 5,14% Jadi Rp10,69 Triliun hingga Juni 2026
Kondisi Indonesia turut menjadi perhatian. Meskipun pada 2025 terjadi sejumlah kejadian CAT cukup besar, dampaknya terhadap harga reasuransi domestik dinilai relatif belum terasa karena pasar reasuransi global masih berada dalam fase soft market dengan kapasitas yang berlimpah.
Kondisi tersebut turut menahan Combined Operating Ratio (COR) pada level yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan eksposur risiko yang ditanggung. Situasi ini berpotensi menambah kerentanan pasar ketika siklus berbalik.
Untuk menghadapi dinamika tersebut, Tugure terus mengembangkan fungsi pricing melalui Underwriting Committee, meningkatkan kualitas data dan pemodelan portofolio, serta memperkuat talent and culture dan keterlibatan aktuaris dalam proses underwriting.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: