Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Keracunan MBG Bukan Insiden, Tapi Bom Waktu

Keracunan MBG Bukan Insiden, Tapi Bom Waktu Kredit Foto: Dokumentasi resmi BGN
Warta Ekonomi, Jakarta -

Jurnalis sekaligus pegiat media sosial, Ahmad Arif, mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimbulkan banyak permasalahan, khususnya kasus keracunan makanan.

Arif menilai persoalan dalam program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut bukan hanya soal teknis pelaksanaan, melainkan desain anggaran yang menurutnya keliru dan rawan praktik korupsi.

"Masalah MBG ini lebih dari soal teknis pelaksanaan, tapi desain anggarannya yang kerliru dan korup," tulisnya di akun Xan pribadinya, dikutip Kamis (3/9).

Menurutnya, jika anggaran Rp15.000 per porsi, yang benar-benar sampai menjadi makanan di piring anak hanya sekitar separuhnya. Akibatnya, kualitas bahan pangan, kebersihan peralatan, sanitasi dapur, penyimpanan, transportasi, hingga proses pemasakan menjadi bagian yang paling mudah ditekan.

Arif juga menyoroti bahwa setiap dapur dituntut untuk menghasilkan keuntungan bagi pemodalnya. "Dan siapa pemilik dapur2 itu, ya para elit itulah," tegasnya.

Ia menambahkan, rangkaian kasus keracunan MBG semestinya tidak dipandang sebagai insiden yang berdiri sendiri.

"Risiko ini terus diproduksi oleh sistem, hanya jd bom waktu yang tinggal menunggu meledak," tandasnya.

Sebagai informasi, dalam sepekan terakhir terdapat kasus keracunan MBG di sejumlah daerah, mulai dari Jawa Timur hingga Sumatera Barat, dan telah mengakibatkan ratusan siswa menjadi korban.

Detail Kasus Keracunan MBG

1. Sidoarjo, Jawa Timur  

Dinas Kesehatan mencatat 592 orang (mayoritas santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam dan siswa dari 19 sekolah lain) dilarikan ke rumah sakit setelah mengonsumsi menu MBG berupa nasi, telur, tempe bali, sayur, dan apel. Per 2 September 2026, sebanyak 79 pasien masih dirawat inap, sisanya menjalani rawat jalan. BGN telah membekukan SPPG Kalitengah selama 30 hari dan mengusulkan pencopotan kepala dapur.

2. Nganjuk, Jawa Timur

Baca Juga: Ratusan Siswa Keracunan MBG, P2G: Maaf Nak, Kalian Cuma Angka

Sebanyak 49 orang (48 siswa dan 1 guru perempuan SMAN 3 Nganjuk) mengalami mual dan muntah dua jam setelah menyantap menu nasi goreng, ayam suwir, dan tahu bulat dari SPPG Begadung. Para korban dirawat di Puskesmas Begadung, RSUD Nganjuk, dan RS Bhayangkara.

3. Agam, Sumatera Barat  

Dinas Kesehatan Kabupaten Agam mengonfirmasi 237 siswa (jenjang SD, SMP, hingga SMA) di Kecamatan Palupuh diduga keracunan massal setelah mengonsumsi MBG. Sebagian besar ditangani di Puskesmas Palupuh, sementara dua siswa dengan gejala berat dirujuk ke RSUD dan RST Bukittinggi. Gubernur Sumbar telah memerintahkan penutupan sementara dapur SPPG terkait untuk investigasi sampel makanan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya