Pakar: Ahok Mungkin Akan Menolak karena Masih Marah Sama Anies Soal Pidato Pelantikan Gubernur DKI
Kredit Foto: Youtube/Basuki Tjahaja Purnama
Wacana Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok disatukan dalam satu pasangan politik kembali mendapat sorotan. Namun hal tersebut diprediksi akan sukar diwujukan menyusul sejahara hubungan keduanya di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta.
Akademisi sekaligus Guru Besar Bidang Ilmu Pemikiran Islam Hasyim Muhammad menilai peluang keduanya bersatu masih menghadapi persoalan emosional dan sejarah politik yang cukup panjang.
Baca Juga: Pakar: Prabowo-Gibran Hanya Bisa Disaingi oleh Anies-PDIP
“Persatuan Anies-Ahok. Kalau dari sisi pendukung, keduanya sama saja. Pendukung Anies dan Ahok bencinya sundul langit ke lawannya. Tapi Anies lebih bisa menerima Ahok daripada Ahok menerima Anies,” ungkap Hasyim Muhammad dikutip Jumat (4/9/2026).
Hasyim kemudian menjelaskan alasan di balik perkiraannya tersebut. Anies menurutnya memiliki kecenderungan lebih terbuka terhadap kompromi sehingga masih ada kemungkinan membangun komunikasi politik dengan Ahok.
Menurutnya, Anies memiliki karakter yang cenderung santai dan kompromistis membuat mantan gubernur itu dinilai lebih mungkin membuka komunikasi dengan Ahok.
“Anies mungkin mau saja dibuatin channel youtube bareng Ahok. Anies orangnya cenderung santai dan lebih bisa kompromi,” paparnya.
Namun, Ahok dapat mengambil sikap berbeda. Ia menyebut sosok itu mungkin menolak karena masih memiliki persoalan dengan Anies. Hal itu terutama berkaitan dengan pidato ketika dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta.
“Sedangkan Ahok, mungkin akan menolak karena masih marah sama Anies. Hal itu terutama terkait pidato Anies saat pelantikan Gubernur DKI,” ungkapnya.
Meski demikian, ia justru melihat pertemuan kedua tokoh tersebut sebagai sesuatu yang berpotensi memberikan dampak besar apabila benar-benar terwujud. Ia bahkan berharap keduanya dapat mengesampingkan perbedaan masa lalu demi kepentingan yang lebih luas.
“Tapi andai saya bisa bertemu langsung Pak Ahok. Saya akan sampaikan bahwa persatuan keduanya adalah sebuah kekuatan besar untuk persatuan bangsa ini,” jelasnya.
Menurut Hasyim, rekonsiliasi tidak harus berarti kedua tokoh tersebut menghapus seluruh perbedaan. Baginya, hal yang lebih penting adalah kesediaan untuk mengakui kekurangan masing-masing dan membuka ruang untuk saling memaafkan.
“Jika mereka berdua bisa bersatu dan mau mengakui apa yang salah dari diri mereka, maka itu akan sangat indah,” ungkapnya.
Hasyim kemudian mengaitkan wacana tersebut dengan dinamika politik nasional menuju Pemilu 2029. Ia mempertanyakan apakah keduanya akan memilih menghadapi pemerintahan saat ini sebagai kekuatan politik alternatif atau justru berjalan sendiri-sendiri.
“Sekarang kembali ke mereka berdua, apakah pemerintah sekarang perlu ‘dikalahkan’ atau dibiarkan? Kalau mereka merasa pemerintah sekarang perlu dikalahkan, tapi mereka berdua berjuang sendiri-sendiri, alias tak mau bersatu, ya sudah perjuangan mereka nggak akan berhasil,” paparnya.
Bagi Hasyim, perbedaan pendekatan politik antara keduanya tidak serta-merta berarti keduanya memiliki tujuan yang bertolak belakang. Ia menilai kedua tokoh tersebut sama-sama memiliki keinginan untuk memberikan kontribusi bagi Indonesia, meski cara yang ditempuh berbeda.
Baca Juga: Purbaya: Uang Jakarta Sudah Kebanyakan
“Ahok dan Anies itu sama-sama punya niat baik kepada bangsa ini. Hanya cara mereka berbeda. Keduanya sama-sama orang baik,” terangnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: